Minggu, 18 Mei 2008
Malam ini ada acara pentas seni, salah satu acaranya adalah membaca cerita mini. Saya tertarik dan ikut mengamati acara itu dari sini.
“Gadis itu cantik,” kata salah satu juri yang mengenakan safari
“Iya, namanya Sari. Dia cucunya Pak Rudi.” Saya mendengar percakapan juri, karena saya berdiri persis di belakang juri.
“ Oooo begitu, dia membaca cerita mini atau puisi ?” Tanya juri bersafari.
“Cerita mini lah, ini kan bukan lomba baca puisi.”
“Hhhmmmm …. Tetapi kenapa terdengar seperti sedang membaca puisi ?”
“Dia cucunya Pak Rudi yang memberi donasi untuk acara ini.” Jawab Pak RT yang juga menjadi Juri.
“Lantas …?” lagi-lagi tanya juri bersafari.
Pak RT mengerlingkan mata, seolah memberi tanda. “ Ya … baiklah,” Juri bersafari kini mengerti.
Saya di sini jadi menggerutu sendiri, baca cerita mini kok seperti membaca puisi. Dan … aaahhh sial ternyata si Sari mendapat nilai paling tinggi.
Sabtu, 12 April 2008
Kata Bapak “Hidup itu harus di jalanin, seberat dan sesusah apapun. Jangan mengeluh dan merepotkan orang lain.”
Sudah tiga bulan ini Bapak menganggur, dan sejak saat itu kerjaan Bapak cuma luntang lantung gak jelas. Saya sebagai anak pertama merasa harus membantu Bapak, makanya setiap pulang sekolah saya mencari uang dengan mengamen di lampu merah. Emak saya menjadi kuli cuci, sedangkan adik-adik saya masih kecil.
Becak Bapak di sita oleh Pak Polisi, katanya Bapak melanggar peraturan lalu lintas “Anda gak lihat di tiang depan sana ada gambar becak di larang masuk di area sini?!” begitu kata Pak Polisi, suaranya keras, dan matanya pun sambil melotot. Sejak saat itu saya benci dengan orang yang beseragam coklat itu, saya benci karena dia telah mengambil becak Bapak, dan saya benci karena Pak Polisi membentak Bapak di depan saya. Saya masih ingat nama Pak Polisi itu, dan saya berjanji kalau nanti saya punya uang saya akan mengambil becak Bapak, dan tidak lupa saya akan menonjok perut Pak Polisi yang buncit itu.
Malam itu lagi-lagi Bapak bilang “Hidup itu harus di jalanin, seberat dan sesusah apapun. Jangan mengeluh dan merepotkan orang lain.” Saya tesenyum sambil memijat-mijat pundak Bapak. “Iya Pak” jawab saya. Sementara Emak saya sibuk membuat air tajin untuk adik bayi saya.
“Tidurlah, besok sekolahkan?”
“Iya Pak.”
“Tenang saja, besok beban hidup kita akan berkurang.” Ucap Bapak sambil tersenyum datar.
“Besok Bapak, sudah bekerja lagi?” tanya Emak, yang masih sibuk dengan air tajin untuk adik bayi. Bapak tidak menjawab, Bapak hanya tersenyum.
Malam itu saya tertidur dengan pulas. Sedangkan Emak, ah ... dia masih sibuk dengan pekerjaan rumah, sementara Bapak, dia sedang asik memainkan handuk kecilnya yang selalu setia menemaninya ketika sedang menarik becak.
_______
Pagi ini saya lihat bapak sudah tidak ada di rumah, saya tanya Emak dia pun tidak tahu kemana perginya Bapak.
“Mungkin Bapakmu lagi cari pekerjaan Le, atau mungkin Bapakmu sudah kerja lagi. Sudah sana berangkat sekolah.”
“Iya Mak.” Pagi ini saya ceria sekali, karena kalau memang benar Bapak sudah bekerja lagi, artinya saya tidak perlu mengamen di lampu merah.
Cuaca pagi ini agak mendung, makanya saya buru-buru pergi kesekolah. Tapi di lampu merah tempat biasa saya mengamen ramai sekali dengan orang-orang, di sana juga ada beberapa orang yang berseragam coklat.
Karena saya penasaran akhirnya saya memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Orang di sebelah saya bilang katanya ada orang yang mau bunuh diri dari tiang lampu lalu lintas yang tingginya mencapai tujuh meter. Tiang lampu lalu lintas itu berada tidak jauh dari tiang yang berlambang becak yang di coret. Saya semakin penasaran, dan saya mencoba untuk menerobos kerumunan orang-orang.
Dan betapa kagetnya saya, di sana terbujur tubuh Bapak, dia merintih kesakitan sembil mencoba menggerakan kakinya. Saya rasa kaki Bapak patah. Sambil kesakitan, Bapak masih sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya.
“Hidup itu harus di jalanin, seberat dan sesusah apapun. Jangan mengeluh dan merepotkan orang lain.” kembali terngiang perkataan Bapak.
Kamis, 03 April 2008
“Enggak Mama ... Aku gak mau punya Papa baru!” Ananda berteriak kencang, saat Mamanya hendak pergi kencan dengan salah satu teman laki-lakinya.
“Sayang ... memangnya siapa yang mau cariin kamu Papa baru? Mama cuma mau pergi makan malam dengan teman lama Mama kok.” Sang Mama mencoba menerangkan dengan lemah lembut.
Ananda, seorang bocah berusia enam tahun. Saat ini ia duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar. Sebagai anak satu-satunya, Ananda kerap sekali bersikap manja kepada siapa saja, terlebih saat Papa KD tak pernah lagi kembali ke rumah. Konon kabarnya Papa KD dipindahtugaskan ke daerah pelosok. Sebagai prajurit yang berbakti, Papa KD pun menerima tugas itu dengan senang hati. Dan Mama Nisa yang baik hati pun dengan ikhlas merelakan Papa KD bertugas diplosok desa.
“Kalau begitu aku ikut!”
“Jangan sayang, Mamakan pergi dengan teman-teman Mama. Memangnya kamu mau ngobrol bareng dengan orang tua?” Mama Nisa tersenyum manis, ketika melihat anak semata wayangnya mulai merajuk.
“Iya Nanda, kamu di rumah saja dengan Om Dadun ya, nanti Om Dadun beliin es cream deh.” Om Dadun ikutan merayu.
Om Dadun adalah adik dari Mama Nisa, sudah dua bulan ini ia tinggal di rumah Mama Nisa. Sebenarnya Mama Nisa sudah sejak lama meminta Om Dadun untuk tinggal dengannya, namun Om Dadun tetap bersikeras tinggal di kampung bersama Nenek. Maklum saja Om Dadun ini orangnya super lugu, pemalu tapi dia pandai menulis lagu, sudah banyak lagu yang dibuat oleh Om Dadun, namun sayangnya tak satupun yang ia orbitkan “Malu ah, aku gak pede” selalu itu yang mejadi alasanya. Tapi anehnya meskipun Om Dadun orangnya pemalu, ketika di suruh bergaya di depan camera, Om Dadun mampu bergaya dengan pede dan narsis.
“Ok ... sayang, Mama pergi dulu ya,” Mama Nisa lalu mengecup kening anaknya yang imut-imut alias item mutlak, lalu dengan sedikit berlari Mama Nisa segera masuk ke dalam mobilnya. “Dadun ... jaga Ananda baik-baik ya!” teriak Mama sebelum mobilnya melaju.
Dan akhirnya, Malam Minggu ini lagi-lagi Ananda hanya ditinggal berdua dengan Omnya.
“Om, aku curiga. Cuma mau makan malam aja kok Mama dandannya rapih banget ya, wanginya minta ampun, aku sampai mau pingsan nyium bau parfum Mama.”
“Ya ... Mamakan mau pergi dengan temannya, kalau Mamamu gak rapih dan wangi nanti apa kata teman Mama. Ih ... Mamanya Ananda bau. Kamu mau Mamamu dibilang bau?” Om Dadun yang lugu dan kutu buku mulai membuka buku bacaanya.
“Ya ... enggalah Om. Mamaku kan cantik, Papa KD aja yang gak pernah nyadar, masa anak semanis aku dan istri secantik Mama Nisa di terlantarkan seperti ini. Papa KD jahat, dia lebih memelih tinggal di desa, dari pada di sini.” Lagi-lagi Ananda merajuk. Sementara Om Dadun hanya tersenyum sambil membenarkan letak kacamatanya yang super tebal.
Kalau sudah sibuk membaca, Om Dadun pasti gak akan bisa diganggu, dan kalau sudah begini, Ananda males untuk dekat-dekat dengan Omnya.
*****
Karena merasa bete, Ananda pun masuk kedalam kamar Mamanya, lalu ia pun merebahkkan tubuh mungilnya di atas kasur empuk milik Mama.
“Ah ... Papa, kok Papa KD gak pulang-pulang sih. Gak pernah telpon aku lagi, Papa sudah lupa ya dengan aku?” Ananda berbicara sendiri di kamar Mamanya sambil menatap foto Papa KD yang tampak perkasa denga seragam prajuritnya.
Dan tanpa sengaja Ananda menemukan foto yang tergeletak di bawah bantal Mama. Ada dua foto laki-laki. Tidak terlalu tampan tapi juga tidak jelek, hanya agak tua saja. Ananda mengamati kedua foto itu, sambil berfikir, mengapa foto ini ada di bawah bantal Mama. Ananda mencoba mengingat, siapa laki-laki yang ada di foto ini.
“Oh ... iya, aku ingat ini kan foto Om Amri yang mandor bangunan. Dan ini, bukanya foto Om Imrul yang punya distro? Lalu kenapa foto-foto ini ada sama Mama, atau jangan-jangan ..... “
“Om .... Daduuuuuuuuuuuunnn ....!!!”
________
Labels: Estafet
Kamis, 14 Februari 2008

Saya tunggu kamu di tempat biasa
pengirim : 0816196xxxx
Sms dari seseorang yang pernah mengisi hidup saya. Dulu.
Cuaca mendung seperti ini lebih asik jika saya gunakan untuk memanjakan diri. Tidur .... ya lebih baik saya tidur, mengistirahatkan tubuh saya yang seminggu ini sudah cukup terlalu sibuk.
Riki ….
Saya mengenalnya saat saya masih duduk di bangku SMA, dia pacar pertama saya dan cinta pertama saya. Orang bilang cinta pertama itu sangat sulit untuk dilupakan, dan ternyata perkataan itu benar adanya. Empat tahun, waktu yang cukup lama menurut saya, namun ntah mengapa sangat sulit untuk menghapus bayangannya.
Riki ....
Pria berperawakan tinggi, berkulit sawo matang dan memiliki paras yang tampan. Wanita mana yang tidak tertarik padanya “Kamu beruntung Sis, bisa dapetin cintanya Riki,” kata teman saya saat itu. Ya ... saya memang tidak memungkirinya, bisa di bilang saya hanya seorang gadis biasa dengan tinggi badan dan wajah yang jauh dari sempurna, sepintas memang tak ada yang menarik dari saya.
“Sisca, aku mencintaimu apa adanya, aku tak pernah peduli apa kata orang lain. Aku mencintaimu dengan semua kekuranganmu dan kelebihanmu.” kurang lebih seperti itu kalimat yang meluncur dari mulut Riki, saat dia mengutarakan isi hatinya. Empat tahun yang lalu.
Saya sangat mengharapkan kedatangmu
Pengirim : 0816196xxxx
“Huuuh ..... “
Sebenarnya mengigatnya kembali merupakan beban mental bagi saya. Namun dengan jujur, saya pun merasakan kerinduan yang teramat sangat padanya. Saya kembali teringat awal pertemuan dengannya. Di sebuah halte salah satu Departemen di kota ini, tak ada yang istimewa, namun cukup mengesankan bagi saya. Betapa tidak pertemuan kami di halte itu bisa di bilang sebagai kencan pertama kami.
Saya hanya meletakan ponsel saya di atas ranjang, sama sekali saya tidak membalas sms Riki. Saya tidak mau patah hati lagi, cukup sekali. Rasa sakitnyapun belum hilang.
Saya berusaha keras memejamkan mata, mencoba melupakan semua kenangan saya tentangnya yang tiba-tiba saja teringat kembali.
Datanglah Sisca, saya sudah lama menunggumu di sini
Pengirim : 0816196xxx
Entah, kekuatan apa yang tiba-tiba menyetakkan saya, dengan segera saya merapihkan diri dan dengan kecepatan tinggi saya kendarai mobil saya menuju tempat di mana Riki sedang menunggu kedatangan saya.
*****
Saya mencari sosok seorang lelaki yang empat tahun lalu pernah saya cintai (bahkan sampai saat ini). Mata saya sibuk menelusuri café ini. Café yang sejak dulu selalu kami sambangi jika berkencan pada malam minggu.
Riki ….
Dia duduk di tempat favorit kami dulu. Di mana melalui tempat duduk itu kami bisa melihat danau kecil yang berada di samping café ini. Tidak ada yang berubah darinya, potongan rambutnya tetap seperti dulu, rambut dengan potongan lima centinya. Gaya berpakaiannya masih sama, jeans dan kaos oblong.
“Hai …. Sisca.” Riki melambaikan tanganya kearah saya.
“Hai …. “ tiba-tiba jantung saya berdegup kencang. Huh … kembali saya alami rasa ini. “Maaf … sudah membuatmu menunggu.”
Saya mencoba mengedalikan perasaan saya, saya tidak mau terlihat canggung di depannya. Riki menceritakan semua kisahnya pada saya, dia pun menjelaskan kenapa empat tahun yang lalu tiba-tiba dia meninggalkan saya. Tidak masuk akal, namun dapat saya terima.
“Sisca … saya masih menyayangimu.”
Seketika degup jantung saya terasa berhenti, nafas saya terasa sesak. Dan saya tetap berusaha mengendalikan perasaan saya sendiri.
“Saya pun begitu … “ namun kata-kata saya hanya di dalam hati, saya tidak berani mengungkapkanya.
“Tapi … Rik, ini gak mungkin, kita sudah sama-sama mempunyai kehidupan masing-masing. Kamu dengan istri dan kedua anakmu, sementara saya dengan suami saya.” Ya … Kami sama-sama sudah berkeluarga, namun saya yang sudah setahun menikah belum juga di karuniai seorang momongan.
Sakit rasanya ketika saya mengetahui Riki sudah memiliki dua orang anak, dia bilang dia tidak begitu mencintai istri pilihan orang tuanya. Tapi, kenapa dua anak itu bisa lahir dari rahin istrinya. Lelaki memang seperti itu. Tidak mencintai, namun tetap di gauli. Bajingan.
Sejenak kami berdua hanya terdiam, sibuk dengan fikiran kami masing-masing. Terlintas di benak saya, untuk menjadikan Riki sebagai pria simpanan saya. Semoga Riki juga berfikir seperti itu, mau menjadikan saya sebagai wanita simpanannya. Dengan begitu kami akan membuat kesepakatan untuk sama-sama serong, menghianati pasangan kami masing-masing. Dan hanya kami berdua yang tau. Cukup kami berdua saja.
_____
Jakarta, 150208, mendengar curahanhatinya
Minggu, 03 Februari 2008
“Ora turu Jeng Ayu?”
“Mengko disit, tanggung” wanita paruh baya itu masih asik dengan kegiatan rutinnya.
“Tanggung opo?” Tanya pria itu lagi.
Hari sudah larut malam, wanita paruh baya yang biasa di panggil Jeng Ayu, terlihat makin sibuk saja. Sibuk merapikan warung kopi miliknya. Jeng Ayu, sudah cukup lama membuka usaha warung kopi. Tepatnya sejak suaminya pergi meninggalkannya begitu saja. Maka sejak saat itu jeng Ayu bergantung hidup pada warung kopinya.
Bisa dibilang kalau Jeng Ayu adalah janda semok, meski usianya sudah tak muda lagi namun penampilanya tetap oke punya. Jeng ayu ditinggalkan oleh suaminya lantaran Jeng Ayu divonis mandul oleh dokter, sementara suami Jeng Ayu yaitu Mas Kirman sangat ingin mempunyai anak, dan saat itu tanpa pertimbangan dengan Istrinya Mas Kirman menikah lagi dengan seorang gadis. Karena merasa harga dirinya diinjak-injak maka Jeng Ayu pun meminta untuk di ceraikan saja.
“Iki loh Mas, aku lagi ngitung setoran lonte-lonteku,” Selain usaha warung kopi, Jeng Ayu pun memiliki usaha sampingan “Untuk sekedar nemenin minum kopi kok Mas” begitu alasanya ketika di tanya kenapa ia berbisnis sewa-menyewa lonte.
“Hihihi ….. piye, rame usahamu Jeng?” Mas Bowo, pria yang keseharianya bekerja sebagai mandor ini sering sekali mampir ke warung kopi jeng Ayu, bisa dibilang dia adalah langganan tetap warung kopi Jeng Ayu.
“Ya … begitulah Mas, namanya juga usaha” Jawab Jeng Ayu dengan logat Jawanya yang cukup kental.
“Siipp lah Jeng.”
“Sampeyan arep sewa lonteku Mas?” Jeng Ayu mulai mendagangkan lontenya, sebenarnya tidak setiap malam Jeng Ayu menawarkan lonte-lontenya, karena setiap orang yang datang ke warung kopinya dengan sendirinya akan menyewa salah satu lonte milik Jeng Ayu.
“Weh … asih ono toh Jeng?” Jawab pria yang berperawakan tinggi besar
“Ya .. ono toh Mas” Jawab Jeng ayu semangat. Biasanya sih kalau sudah larut begini lonte jeng Ayu sudah terboking semua, tapi entah ada apa malam ini, lontenya masih ada yang berdiam diri di markas, belum ada yang minat untuk menyewanya.
“Pesen siji ono ?” Pria itu menyodorkan cangkir kopinya yang sudah kosong.
“Ya ono toh Mas, ono telu sampean pilih dewe. Sa’karepmu?” Jeng Ayu memanggil ketiga lontenya, yang sejak tadi belum ada yang minat untuk menyewanya.
“Wah … tenan iki Jeng?”
“Ya … tenan toh Mas, sampean ta’ kasih diskon.” Mas Bowo memang belum pernah sama sekali menyewa lonte milik Jeng Ayu “Terlalu ranum Jeng, aku ra’ tega” begitu alasan Mandor itu ketika di tawarkan lonte milik Jeng Ayu.
“Sampean pilih saja, sa’karepmu. Ono sing klop, ya wis langsung boyong …. hahhahahah” Jeng Ayu tertawa lepas, sementara ketiga lontenya harap-harap cemas (berharap semoga di pilih oleh Mas Bowo dan cemas bila tak terpilih, karena nanti bisa kena semprot oleh Jeng Ayu).
“Hmmm ….” Gumam Mas bowo sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Jeng, gimana kalau aku sewa kamu saja malam ini,” Mas Bowo kembali mencoba menggoda Jeng Ayu. Sebenarnya Mas Bowo sangat menaruh hati pada Jeng Ayu, dia juga pernah mengungkapkan isi hatinya pada Jeng Ayu.
“Aku tresno karo sampeyaan Jeng Ayu”
“Huh … ra’ sudi aku Mas, sampean wis duwe bojo, anak banyak. Moh aku” Jawab Jeng Ayu saat itu.
“Sembarangan sampeyan Mas, aku ini dudu lonte, aku ini germo, sebagai germo aku ora oleh nyerobot lahan lonteku” jawab Jeng Ayu seraya mencibir ke aarh Mas Bowo.
“Ya … sekali-kali ra’ popo lah Jeng”
“Ora … Emoh aku!”
“Ya wis Mas, sampean pilih saja, tuh lonteku sudah nunggu, aku tinggal kedalem dulu” Jeng Ayu masuk ke dalam rumah sambil membawa kotak uang hasil setoran beberapa lontenya yang sudah balik kandang.
“Arep turu Jeng?” Mas Bowo sedikit membuntuti Jeng Ayu kedalam rumahnya.
“Dudu … aku arep sembayang”
“Sembayang opo toh Jeng, tengah malem begini”
“Sembayang tahajud, arep mohon ampun karo gusti Allah. Oh iya Mas, nanti kalau sudah pilih lonteku, jangan lupa kasih dia tips yang banyak …. hahhahahha” Jeng Ayu segera menutup pintu kamarnya.
Kamis, 24 Januari 2008
Duh, senangnya akhirnya cerpenku masuk resensi di acara Perkosakata2008. Buat Mbak Amalia Suryani makasih banyak yak ^_^
____________________
Oleh Amalia Suryani
Daya tarik LONTE adalah si penulis tidak menjelaskan apa itu “lonte” pada pembaca sampai akhir cerita. Pembaca dipaksa untuk menerjemahkan sendiri (bagi yang belum tahu istilah lonte) dan dibuat penasaran (bagi yang sudah tahu) bagaimana si penulis akan mendefinisikannya.
Cerita ini lucu. Ada fakta-fakta tersembunyi yang sangat menarik. Saya sih tidak tahu fakta itu sengaja dibuat samar atau sebenarnya tidak ada artinya. Yang jelas menurut saya menarik sekali.
Pertama. Fakta bahwa tokoh Ririn mendapat istilah “lonte” dari ayahnya. Kenapa ayahnya menyebutkan kata “lonte” di depan anaknya? Sengaja atau tidak?
Kedua. Si Ayah mengucapkan “kamu lonte, dasar anak lonte!”. Yang ini juga menarik sebab sepertinya menjelaskan alasan tidak adanya karakter Ibu di cerita ini. Jangan-jangan memang ibu Ririn memang seorang lonte.
Ketiga. Penulis tidak terburu-buru menjelaskan arti “lonte” untuk pembaca. Saat Ririn bertanya pada teman-temannya, penulis tetap bertahan tidak membeberkan definisi “lonte” dengan mudahnya. Bahkan Ibu Guru juga tidak berbaik hati memberitahu Ririn apa itu “lonte”, dan tidak repot-repot melarang Ririn menyebut dirinya “lonte”. Dengan lugunya, Ririn dibiarkan mengartikan sendiri “lonte” menurut pemahamannya sebagai anak umur enam tahun.
Kalau diminta menyebutkan kelemahan cerita ini, saya terpaksa bilang agak kecewa saja dengan ending-nya. Bukan karena masih tidak terpapar apa itu “lonte”, tapi karena kejadian Ririn memanggil seorang perempuan seksi dengan sebutan “lonte”. Padahal sebelumnya Ririn mengartikan “lonte” sebagai senyum manis, sementara Kakak Seksi tidak digambarkan sebagai orang yang manis, melainkan seksi.
Sepertinya cerita ini bakal lebih menarik kalau Ririn menyebut seorang Kakak Manis dengan sebutan “lonte”, hingga si Kakak Manis tersinggung dan terluka hatinya dikatai “lonte” oleh seorang anak kecil.
___________________
Amalia pernah menyandang Penulis Berbakat Lomba Teenlit writer 2005. Sejak saat itu ia telah mengeluarkan 3 novel teenlit yang semuanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, yaitu Being 17, Rival, 100 jam dan dua buah cerpennya yang masuk dalam kumpulan cerpen teenlit GPU: Idolamu? Itu aku!
Labels: Berani diresensi
Rabu, 09 Januari 2008

Iseng coba bikin 100 kata. berhasil gak yak ?
__________
“Maamaad ... !”
“Iya .. Mak”
“Sedang apa kau?” Emak Mamad cemas, sejak siang tadi Mamad tak juga keluar dari kamarnya
“Lagi tidur Mak”
“Macam mana pula kau ini, kau bilang sedang tidur, tapi kau bersuara”
“Upss .... “ Mamad menutup mulutnya. Lalu cekikikan sendiri
Hari ini Emak Mamad ulang tahun yang ke 40. Dan sore nanti ia berniat akan memberikan kado buat Emaknya tercinta.
****
“Mak .... selamat ulang tahun yak Mak”
“Kau memang anak Emak yang baik”
Mamad menyuruh Emaknya memejamkan mata. Dengan riang Mamad yang masih berusia enam tahun bernyanyi.
..... Roda empat buatanku sendiri, dari kulit buah jeruk Bali ...
Emak terharu, Mamad pun tersipu
Kamis, 03 Januari 2008
Kolab lagi ama Mirza Kacrut (seri Jono - Mamad ke 2)... lanjooot Mad, kita bikin lagi
________________
Seperti biasa, setiap sorenya Jono dan Mamad rutin bermain sepakbola di lapangan balong. Ya. Meskipun akhirnya Mamad hanya duduk di pinggir lapangan sambil menyaksikan kelihaian Jono beraksi di lapangan, memainkan bola.
“Maaaaaadd ... ayook dong main bola!!” teriak Jono dari ditengah lapangan, sambil tetap berkelit memainkan bola di kakinya dengan tangkas.
“Ogah ..ah ! Gak mau, lagih nanggung makan kuacinye” Teriak Mamad di pinggir lapangan. Mamad emang tidak terlalu hobi bermain bola, alasannya sih karena badanya terlalu gemuk dan bulat. Padahal memang pada dasarnya Mamad malas bergerak lebih cepat dari kunyahan mulutnya. Tetapi sebenarnya Mamad pernah mencoba untuk ikut bermain bola bersama Jono dan teman-teman yang lain. Malangnya, ditengah permainan yang seru, Jono tidak sengaja menendang bokong Mamad karena salah mengira bokong itu sebagai bola (bentuknya sama-sama bulat siy). Kontan Mamad marah dan mengamuk sejadi-jadinya karena bokongnya sakit, dan terutama karena merasa dilecehkan oleh sahabatnya. “Masa pantat seksi gini elo kirain bola?!” Mamad mencoba protes atas perlakuan Jono yang tidak pantas. Sejak itulah Mamad selalu menolak setiap Jono mengajaknya bermain bola di lapangan balong.
Karena merasa tak berhasil membujuk sahabatnya untuk menemaninya bermain bola, Jono akhirnya melanjutkan bermain bola di lapangan, sementara Mamad masih berkutat mengupasi kulit kuaci rasa melon yang dibeli di warung mak Ijah.
**_**
Waktu sudah semakin sore, dan anak – anak yang bermain di lapangan balong mulai terlihat letih. Satu persatu anak – anak itu meninggalkan lapangan menuju ke pinggir atau langsung pulang ke rumah masing – masing.
“Mad, bagi es limunnye yeeh?!”, Jono menyapa sahabatnya dengan napas yang masih tersengal-sengal karena bermain bola sepanjang siang.
“Jaaahh … gue juga baru nyedot Jon!!,” Mamad berusaha mempertahankan plastik berisi es limunnya.
“Huuuu … bilang ajah elo kagak mao ngebagi gue ..dasar peliit!,” Jono mempertontonkan bibir monyong yang seksinya melebihi artis lenong ibukota.
Ketika kedua sahabat itu sedang berdebat tentang es limun milik Mamad, tiba – tiba, entah mencungul dari mana, seorang gadis cilik dengan potongan rambut ala tokoh kartun, berdiri di depan kedua sahabat itu.
“Bang Jono, ada surat dari Mbak Warmi niy,”anak gadis tersebut menyerahkan amplop berwarna pink dengan gambar hati, lalu berlari terburu-buru sambil tertawa cekikikan kayak kuntilanak dikitikin. Jono kontan langsung melongo menerima surat itu, dan langsung shock melihat kata yang tertulis di depan amplop tersebut.
“Buat : Aa’ Marjono Bechkam ; Dari : neng Warmi Sumarwi.”
Sebenarnya nama panjang Jono adalah Marjono Suparjo. Namun belakangan ini Jono mengganti nama belakangnya menjadi Bechkam, yang tak lain adalah idola Jono. “Biar keren” ini juga salah satu alasanya mengganti nama belakangnya.
Mamad, yang IQ-nya padat meratap, malah ikutan bengong lalu memandangi wajah sahabatnya yang masih mematung dan terlihat pucat, seperti orang yang mendapat kabar bahwa Kiamat Sudah Dekat.
“Huuaaaa….”, tiba-tiba Mamad meraung seperti baru menemukan harta karun.
“Apaan si lo badak bengkak…bikin gue kaget aje”, Jono, terdengar sewot karena terkejut mendengar raungan Mamad.
“kayaknya elo baru aje dapet surat cinta Jon,” sahut Mamad, dengan lagak seperti detektif satwa.
“Aa..ahh, masa’ siy Mad?!” Jono berusaha menutupi perasaan bingung dan gelisahnya.
Saat kedua sahabat itu masih berusaha mencari tahu maksud dan tujuan serta sasaran dari surat yang sekarang ada dalam genggaman Jono, tiba-tiba, anak kecil ketawanya mirip kuntilanak tadi mencungul kembali dari belakang mereka.
“Ooo…iyah Bang Jono, kata Mbak Warmi, balesannya ditunggu secepetnya yah!” lalu si bocah berambut Dora itu kembali cekikikan sambil berlari. Kedua sahabat itu kembali terbengong, dengan wajah mirip kuda keselek kuaci rasa durian.
**_**
Sore hari. Seperti biasa Mamad berjalan ke lapangan balong. Mamad terlihat celingukan di warung Mak Ijah, seperti mencari sesuatu. Rupanya dia sedang mencari sosok sahabatnya, Jono, yang rupanya tidak terlihat ikut bermain di lapangan balong sore ini. Mamad terlihat berpikir, dan dia baru sadar kalau Jono pun tidak sekolah pagi ini. Ada apa sebenarnya dengan Jono??
Rupanya Jono sedang terbaring lemah di atas tempat tidur, di rumahnya. Tampak Ibunda Jono memeras kain untuk mengompres, yang sebelumnya direndam dalam air hangat.
“Piye iki Jon .. Jon, kok bisa-bisanya kamu demam?!” Ibunda Jono tampak tenang menempatkan kain kompres ke jidat Jono yang seluas lapangan balong. Bahasa kerenya bias di bilang kalu jidatnya Jono itu jenong.
“Hmmm..ehmm,” Jono menggumam sambil menggeliat lemas, dengan wajah yang terlihat semakin pucat.
Tok .. Tok .. Tok .. preett, (Preett … kurang lebih seperti itulah bunyinya bila pintu rumah Jono di buka sedekit. Maklum sudah agak rapuh kayunya) tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk. Ibunda Jono langsung beranjak dari tempat tidur anaknya, dan berlalu untuk melihat tamu yang datang.
“Ooohhh kamu Mad, masuklah..!,” Ibunda Jono terlihat lega, melihat ternyata tamu yang datang adalah Mamad. Bukan tukang kredit panci.
“Jono kenape Bu’? kok kagak masup sekolah trus kagak kliatan maen bola di balong??”, Mamad terdengar khawatir dan bernafsu mencari tahu kabar sahabatnya itu.
“gak pa pa kok Mad, cuma demam biasa ajah,” Ibunda Jono berusaha menenangkan Mamad yang terlihat semakin resah dan siap-siap nyeruduk kayak banteng liar. “Oooo .. gitu bu, kirain si Jono kena herpes lagih.”
“Tumben elo bisa sakit Jon, gue kirain penyakit takut ngeliat tampilan elo yang gak bergizi”, Mamad nyengir dudulz di samping tubuh Jono.
“Rese lo Mad, perut gue mules, pala puyeng, badan lemes, kantong kosong, pokoknye parah daah Mad,” Jono berkeluh kesah di hadapan sahabat baiknya.
“Oooo..bukannya emang kantong elo udah biasa kosong Jon??” Mamad menimpali obrolan anehnya Jono. Biasa kalau lagi kumat sakitnya si Jono emang suka rada ngaco.
“Jadi sebenernya kenape elo bisa sampe kacau begini siy Jon?”
“Gue juga kagak ngarti Mad .. abiiisss…gue kan emang gak nyangka bakal ampe kek begini”
“Laaaahh … emang elo sakitnye gara-gara apaan Jon?”
“Naaaahh … itu die maksud gue Mad … maksud gue itu die … die itu gue maksud”
“Ngomong yang bener kecoak cungkring!!! Gue kagak ngarti elo ngomong apaan!!!” Mamad mulai senewen. Tanpa sengaja di toyornya kepala Jono yang masih pusing.
Jono terlihat terdiam, dengan wajah bersemu seperti tomat dikasih bedak. “Gue gak nyangka ajah dapet surat dari si Warmi,” Jono berbisik dengan suara mirip tikus kejepit rolling door.
“Huakakakakakak…kakkak,” Mamad ketawa ampe gegulingan sambil memagangi perut buncitnya yang geyal-geyol. Dengan sigap Jono melempar (lebih tepat menyambit kali ye?!) sepatu bola kearah Mamad.
**_**
Besoknya Jono terlihat kembali mengikuti pelajaran di sekolahnya. Tapi entah kenapa, dari sejak mulainya pelajaran pertama, sampai waktunya istirahat, Jono terlihat resah dan gelisah.
“Elo kebelet pipis yah Jon?” Mamad terlihat bingung melihat kegelisahan sahabatnya.
“Huwaaaa …, dasar badak bengkak!! Bikin gue kaget ajah!!” Jono melompat kaget, dan berusaha menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Mamad yang curiga semakin penasaran melihat kelakuan sahabatnya, yang semakin aneh.
“Tangan elo kenapa ada di belakang Jon?” Mamad bertanya dengan nada menyelidik, yang sepertinya makin membuat Jono gusar.
“kagak ape-ape Mad, emang kenape?! Tumben pake nanya segala,” Jono berusaha menutupi kegelisahannya, tapi malah justru terlihat makin mencurigakan. Lalu tiba-tiba Mamad bergerak cepat, s ke belakang Jono.
“Cieeeeeee …. amplop apaan tuuh Jon??” Mamad terlihat sangat terkejut menemukan sebuah amplop di tangan Jono.
“Sstttt..jangan berisik!! Dasar gajah bunting!!” Jono berusaha menutupi mulut sahabatnya itu dengan tangannya, lalu menyeretnya ke depan WC.
“Elo jangan bilang sapa-sapa yeah Mad!?” lalu Mamad yang sudah terpojok ke tembok, hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Gue udah bikin surat balesan buat si Warmi, semaleman begadang ampe mata gue mlintir,” Jono menjelaskan dengan nafas yang semakin cepat, seperti habis dikejar bencong ganas, yang suka mangkal di perempatan lampu merah.
“Ooooo..ooo,” Mamad hanya membulatkan bibirnya, mendengarkan penjelasan sahabatnya itu. Jono terlihat semakin stress melihat tanggapan Mamad, dan mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya udah aahhh!” Kekesalan Jono memuncak dan meninggalkan Mamad yang bengong di depan WC.
**_**
“Pokoknye sekarang gue kudu ngasih surat ini ke si Warmi”, Jono berteriak lantang dalam hati.
Matanya terlihat berkeliling celingak-celinguk kayak cecunguk, dan Jono terlihat semakin bingung, karena tidak menemukan Warmi di penjuru kantin.
“Lagih ngapain Mas Jono??”, tiba-tiba terdengar suara lembut di belakang Jono, dengan logat jawa yang kental.
“Eeehhh…Warmi, kirain sapa,” Jono berusaha menampilkan senyumnya yang paling manis, tapi akhirnya malah seperti orang meringis.
“Mi, ini buat elo,” tiba-tiba Jono mendapatkan dorongan keberanian untuk menyerahkan amplop surat yang tadi ada di tangannya. Warmi hanya terdiam, lalu seperti terpaku memandangi amplop berwarna biru, dengan tulisan “Buat : Warmi”.
“Siallll..mending gue lari-larian sambil telanjang deeehh daripada suruh ngulang itu lagih…” Jono berteriak dalam hati sambil berjalan dengan terburu-buru ke dalam kelas.
bruk .. gedubrak .. meoong tiba-tiba Jono menabrak seseorang, yang ternyata adalah Mamad. “Sialan, gue kirain ditabrak tiang bendera, gak tau nya elo Jon,” Mamad terlihat lega karena ternyata yang menabraknya adalah Jono. Sebelum Mamad bertanya lebih lanjut, Jono langsung melotot dan malah bergegas ke ruang kelas. Mamad terheran, lalu langsung mengejarnya sambil teriak-teriak memanggil nama Jono. Lagak si Mamad udah kayak fans yang mau minta tanda tangan sama artis beken.
“Elo kenape lagih siy Jon??”
“Kagak ape-ape” Jawab Jono datar tanpa ekspresi sama sekali.
“Kagak ape-ape?! Palelo bejedar kagak ape-ape, tadi elo nyeret gue ke dapan WC, sekarang elo nabrak gue trus ngabur kek kecoak dapur,” Mamad nyerocos seperti knalpot kendaraan dewa (baca : Bajaj), sementara Jono hanya menundukkan kepalanya.
“Gue udah ngasih suratnya ke si Warmi, Mad,” Jono terdengar lirih, dan suaranya mirip orang yang hampir menangis.
Mamad langsung bengong.
**_**
Ketika sudah waktunya Jono dan Mamad terlihat terburu-buru ke taman sekolah, bukannya justru ke arah gerbang. “gimane kalo ampe die kagak dateng yeh Mad?!” terdengar dari nada suaranya, Jono sudah berada di batas ambang kegelisahannya.
“Tenang aje, si Warmi pasti dateng!” Mamad berusaha menenangkan sahabatnya, yang justru terlihat makin tegang.
Tiba-tiba muncul sosok Warmi dari ujung koridor sekolah, sepertinya baru keluar dari kamar mandi. “waduh itu die si Warmi nye Jon” Mamad menunjuk ke arah Warmi, lalu perlahan Jono memutar lehernya menuju arah yang ditunjuk Mamad. Tiba-tiba Jono memutar kepalanya ke arah semula dengan cepat, sebelum sempet melihat sosok Warmi.
“Si Warmi ke arah sini gak Mad?” Jono berbisik ke Mamad, sambil menyenggol-nyenggol pinggul sahabatnya itu. Mamad bukannya menjawab, malah justru menggeliat kegelian Karena pinggulnya di senggol Jono.
“Eh, mas Jono udah nungguin. Udah lama yah ?,” Warmi menyapa Jono dengan ramah, sementara Jono sibuk mendorong Mamad untuk menjauhi dari tempat itu, namun Mamad bersikeras untuk terus berada di samping Jono.
“Loohh kenapa mas Jono?! Kok mas Mamadnya didorong?” Warmi kebingungan melihat tingkah aneh kedua sahabat itu.
“Eehh gak pa pa Mi, si Mamad udah mao pulang kok,” Jono berusaha tersenyum dan terdengar ramah, sementara masih berusaha mendorong Mamad yang segede bagong.
“Ooo gitu, tapi kok mas Mamadnya di dorong??” Warmi tetap penasaran karena melihat pergulatan Mamad dan Jono malah semakin seru.
“Eh .. gak kok Mi. Beneran, siy Mamad udah mao pulang kok,” Jono kembali tersenyum kepada Warmi, karena akhirnya Mamad menyerah dan beranjak pergi dari tempat itu.
Sekarang tinggallah Jono berdua saja dengan Warmi. Tapi dari kejauhan, Mamad malah berbelok ke arah semak-semak tak jauh dari tempat ngobrol Jono.
“Udah di baca suratnya?” Jono terdengar kaku dan gugup, dan seperti orang yang sedang sembelit.
“Udah kok mas,” Warmi terlihat menunduk tersipu. Jono yang melihat gelagat aneh dari Warmi justru malah semakin gelisah.
“Tapi … ” Warmi tidak meneruskan kalimatnya. Jono terlihat tegang menunggu kalimat itu diteruskan.
“Maafin Warmi yah mas, Warmi gak jadi deh mau jadi pacarnya mas Jono,” Jono langsung melongo dan terlihat sangat bodoh.
Mereka berpisah di depan gerbang. Jono belok ke kiri, sementara Warmi langsung menaiki becak yang mangkal di depan sekolah. Dengan wajah yang kusut, Jono menyeret langkahnya yang berat, seolah kedua kakinya itu diganduli sebuah bola besi (seperti tahanan jaman dulu).
“Gimana hasilnya Jon??” tiba-tiba Mamad muncul sambil merangkul pundaknya, tapi Jono hanya mendesah.
“Muke-mukenye kena apes niy. Jon, kagak ape-ape, masih banyak cewek laen di dunia.” Mamad berusaha menghibur sahabatnya dengan cara-cara yang (sok) bijaksana.
“Bukan itu Mad, gue siy gak masalah ditolak… cuma alesannya itu looh yang gue kagak terima..” Jono terdengar semangat, tapi langsung sendu lagi.
Sebenarnya Jono agak kesal juga dengan si Warmi, awalnya kan si Warmi yang yang bilang suka duluan lewat suratnya yang berwarna pink itu. Tapi kenapa setelah di balas dan Jono bilang “Iya” eh .. si Warmi malah bilang gak jadi.
“Emang alesannye apaan Jon??” Mamad bertanya kembali dengan nada penasaran.
“Die malu kalo pacaran ma gue Mad, karena gue belom sunat!!” lalu hening.
“Buseeett … si warmi tengil amat, Cuma gara-gara lu belum sunat aja dia batalin jatuh cinta ama lo Jon. Bener-bener tu si Warmi !, lagaknya udah kayak anak gede aja, padahal pan die baru baru kelas empat, beda satu tingkat ama elu Jon.
“Tau tuh …. Rese ! malu-maluin gue aja” Jono makin kesal karena sudah dua kali ini dirinya di permalukan lantaran dia belum juga mau sunat sampai saat ini.
“Hehehe …. Sabar Jon. Lo juga sih, Makanya ……….. “ Mamad menggantung kalimatnya
“Berisik lo Mad!” Jono makin senewen, dia tau apa maksud kalimat Mamad tadi.
Heeyyy … Sunatan Masal .. aha ..aha, Mamad langsung bersenandung, lalu berlari. Dia takut kalau Jono ngamuk bisa gawat. Sebab Jono rada sensi dengan syair yang di nyanyikan Mamad.
Labels: kolab wit Mirza
Sabtu, 22 Desember 2007

Hanya cerita iseng yang ku buat bersama nirozero
______
Alkisah pada suatu sore dua orang sahabat Dini dan Yudis ingin pergi jalan-jalan sore, maklum lah ceritanya Dini dan Yudis adalah seorang mahasiswa yang mahasibuk, hampir setiap hari kegiatannya lebih sering di lakukan di kampus, bahkan tak jarang merekapun mandi dan tidur di kampus, maklum saja rumah mereka jauh dari kampus, jadi ini adalah salah satu alternatif mereka untuk menghemat pengeluaran.
“Din ... jalan-jalan kemana ya enaknya?” tanya Yudis yang mulai gerah, maklum aja rambut Yudis gondrong berantakan gak jelas. Katanya si biar keliatan kalau dia orang seni (Yudis itu anak band loh)
“Emmm ... kemana ya ? Gimana kalo kita ke rumah Om gue aja di Grogol” Jawab Dini dengan wajah sumringah. Dini adalah temen dekat Yudis mereka sudah saling kenal sejak jaman SMA dulu, Dini cewek yang lumayan tomboi, hobinya baca majalah gosip *tomboi kok demen majalah gosip ... aneh
“Ok deh .. boleh” Yudis setuju dengan ajakan Dini
******
Yudis dan Dini duduk manis di halte, dengan sikap manis mereka menunggu Bus yang mereka maksud, sesekali pandangan Yudis dan Dini mengelilingi area sekitar, apa saja yang mereka lihat tanpa segan mereka komentari, dari mulai tukang koran, pedagang asongan, sampe tukang minta-minta, bahkan polisi yang perutnya buncitpun habis mereka jadikan bahan olokan *maklum mahasiswa aktif kan paling suka mengkritik .... hehhehe
“Yud ... lo liat deh, pengamen yang di lampu merah itu, gila ya ... masih kecil banget” Dini terus mengarahkan padanganya ke arah pengamen kecil tersebut. Naluri keibuanya keluar iba melihat bocah pengamen tersebut *biar tomboi Dini kan tetep wanita.
“Iya ... kasian, makanya lo kudu banyak bersyukur Din” timbal Yudis sok bijak
“Ho oh .... gue mo nyamperin tu anak ah, gue mo kasih duit, kesian bener dari tadi gue perhatiin dari sekian banyak mobil mewah gak ada satupun yang ngasih.” Dini segera mengambil uang dari saku kemeja panelnya dan beranjak dari halte.
“Eh ... Din, lo jangan ngasih duit ke tu anak!” Yudis menarik lengan kemeja Dini.
“Yeee ... mang kenapa, gue gak boleh ngasih tu anak duit ?!” Dini merasa aneh pada Yudis, karena setau dia Yudis adalah tipe orang yang peduli banget ama sekitar, tapi kenapa kali ini Yudis benar-benar melarang Dini melakukan hal sosial.
“Eh ... dudulz mang lo gak tau apa ? Sekarang tuh ada Undang-undang yang isinya larangan memberikan santunan buat pengamen dan pengemis jalanan” Jawab Yudis sambil melirik si polisi bertubuh gempal dengan perut yang super buncit.
“Buseettt .... peraturan yang aneh !! siapa yang bikin sih ? Kok gue gak pernah denger ya ?!! Bodo amat ah! Lepasin gue!” teriak Dini. Dia nekat sebab dia merasa bener. Emang ada dalam Al-Qur’an ngasih duit ke orang itu dosa? Kok negara berani bener melarang orang berbuat baik, Jahat banget tuh pemerintahannya. Pasti kebanyakan makan duit korupsi. Jadi, otaknya ketularan korup tuh!
Dini tetep nekat mendekati anak kecil tersebut dan memberikan selembar uang ribuan ke dalam kaleng kecil di tangan anak itu. Anak itu tersenyum polos. Dengan segala ketulusan hati dia mengucapkan terima kasih kepada Dini. Dini pun tersenyum kepada anak itu. Lega rasanya setelah berbuat baik walau hanya sekali saja.
Tapi, belum sempat kembali kepada Yudis. Tahu-tahu seorang polisi berperut buncit yang tadi mereka gosipin sudah ada tepat di belakang Dini. Dia langsung menegur Dini.
“Mbak! Anda melanggar UU Perda tentang larangan memberi santunan kepada gelandangan. Terpaksa Anda harus saya tangkap,” ucap polisi itu tiba-tiba. Dini yang nggak terima dengan perlakuan semena-mena itu nyolot juga. Karena dia merasa dirinya benar. *Dini emang paling hobi nyolot ... sekali lagi maklum aja doi mahasiswa aktif ... aktif ikut demo maksudnya.
“Lho ... Pak, saya kan berbuat baik, kok Bapak mau tangkap saya sih? Mendingan Bapak tangkep tuh preman yang nongkrong di pinggir jalan,” katanya sambil nunjuk-nunjuk Yudis. Sementara si bocah yang pengamen hanya memandang mereka dengan heran.
Yudis spontan kaget pas ditunjuk-tunjuk seperti itu. Dia jadi ngerasa dijadikan kambing hitam sama Dini. Dan akhirnya bocah pengamen itu pergi menjauh “Gak ikutan ah …. “ ujarnya sambil berlalu.
“Duh, tuh anak! Padahal dah dikasih tahu tetep ngeyel juga! kena kan loe sekarang,” gerutu Yudis.
Tapi, karena Yudis orangnya baek dan nggak pendendam. Dia nggak langsung kabur ketika ditunjuk-tunjuk sama Dini. Dia malah mendekati Dini dan polisi itu untuk menjelaskan semuanya.
“Ada apa Pak?” tanya Yudis dengan tampang innocent (ingin nonjok cetengah mati maksudnya).
“Oh, jadi kamu juga mau menyerahkan diri sama saya?!” bentak polisi buncit itu. *mungkin ini azab gara-gara tadi mereka gosipin polisi ini
“Weits, nggak pak! saya cuma pingin tahu aja pokok permasalahannya, cuma itu kok Pak!” ucap Yudis ngeles. Fyuh! Angker banget sih nih polis. Pasti tadi malem abis nelen boneka jelangkung deh! Atau jangan-jangan dah tengah hari bolong gini doi lom dapet duit tilangan ?... wakakka
“Ini lho dek! Teman kamu ini melanggar UU Perda tentang larangan memberi santunan kepada gelandangan. Dan teman kamu ini masih nekat kalau dia tidak bersalah!” ucap polisi itu garang. Yudis lalu manggut-manggut seperti burung onta nelen kacang kenari. Jakunnya yang bulet gedhe naik turun di lehernya yang kurus.
“Oh, gini Pak! Temen saya ini masih baru di Jakarta. Jadi, dia belum tahu peraturan terbaru disini. Jadi, maafin temen saya ya Pak!” kata Yudis meminta maaf.
“Lho, kok gue sih yang harus minta maaf. Seharusnya hmmmfffh. . . . .” Yudis buruan membungkam mulut Dini yang ember abis.
“Sssstt! Diem loe Din. Gue baru nyelametin loe dari denda tiga puluh jeti!” bisik Yudis ke telinganya Dini.
“Ngg. . . Pak. Kita kan sesama warga Jakarta ya Pak. Kita damai aja yuk Pak.” Rayu Yudis pada Polisi yang bentuknya dah kayak teletubies.
“Tapi … nggak bias!!. Temen kamu ini kan. . . .”
“Temen saya lom ngasih duit damai maksud Bapak ?” Sebelum polisi itu selesai ngomong. Yudis segera menyalami tangan polisi itu dengan segepok duit. *tau gak yang di kasih ke tu polisi cuma duit ribuan tiga lembar ... hehheeh
“Wah, makasih banget nih Pak! Kebetulan bus kite dah dateng! Kita pamit dulu yee!!!” kata Yudis sambil tersenyum penuh arti dan polisi itu keliatannya nangkep bener apa yang dimaksud sama Yudis.
“Oh, gitu ya. Ati-ati lho Dik! Belajarnya yang giat ya!” kata polisi itu dengan tersenyum.
“Pak .. besok-besok saya mau usul sama pemerintah supaya di bikin UU buat polisi-polisi rakus macam Bapak, yang doyan minta duit damai ama warga Jakarta” bisik Dini ke telinga Pak polisi. Dini tampak emosi, Yudis langsung memanggil Dini untuk segera masuk kedalam bus. Untungnya setelah Dini masuk kedalam bus, supir bus langsung tancap gas, klo gak bisa kena semproot si Dini dah ngomong begitu sama polisi.
“Emang tadi polisi itu loe kasih berapa Dis?” tanya Dini kemudian. Dia ternyata tahu udang di balik bakwannya Yudis.
“Tiga ribu.”
“Ha ?!”
“Biarin. Yang penting kita ngasihnya ikhlas . Hehehe. . .” Yudis tertawa tanpa sedikitpun rasa bersalah. Ya … memang nyatanya mereka berdua tidak bersalah.
Dalam Bus besar itu tawa Yudis dan Dini menggelegar penuh kemenangan, dengan kompak mereka menatap ke arah polisi tadi sambil melambaikan tangan penuh dengan rasa hormat.
“Wakakkakakakka ….” Lagi-lagi mereka tertawa lepas.
Labels: kolab with Nirozero
Senin, 17 Desember 2007

"Habis intip-intip Blognya Dewi Lestari, jadi bikin cerita gak jelas begini (ceritanya terispirasi sama salah satu tulisanya, tapi sayanya gak bisa ngembangin inspirasi itu). Jadinya cuma begini deh. Tak apa lah"
______
"Apa kabar jeng?" sapanya saat kami janji bertemu untuk sekedar minum kopi bersama.
"Baik" ku balas sapaannya dengan senyum manisku. Lalu cipika cipiki
Kami pun memesan secangkir kopi kapucino, sedikit berinteraksi demi mancairkan suasana. Sudah lama tak bertemu muka.
"Siapa kekasihmu yang sekarang?" pertanyaan ini lagi. Bosan aku
"Balik lagi sama yang dulu." Akhirnya kopi kami pun datang. Nona berparas cantik yang mengantarnya.
"Oooh ya, kenapa balik sama dia?." Bagiku ini pertanyaan bodoh.
"Cinta mati sih" jawabku sambil tertawa. Diminum jeng kopinya
kamipun terhanyut dalam suasana yang sarat dengan canda dan tawa, bertemu teman lama memang menyenangkan.
"Kamu sendiri, bagaimana?" aku balik bertanya, ingin tau juga soal kisah cintanya.
"Kami nyaris hampir menikah" jawabnya datar
"Nyaris ?"
"Ya ... nyaris" Dia tertawa, seolah menertawakan hidupnya sendiri. Dan akupun ikut tertawa, tepatnya menertawakan kebodohanya di masa lalu. ah sudahlah lupakan
Akhirnya kami sepakat untuk tidak menceritakan kisah cinta kami, takut kalau nantinya malah merusak suasana sore ini.
"Btw ... badanmu masih segini-gini aja" dia tertawa terkekeh
"Dari dulu memang begini Non, tak usah heranlah!" kurus salah, gemuk lebih-lebih. terlalu banyak komentar.
"Eh ... aku punya prodak baru loh, hand&body lotion. Bisa memutihkan kulit" Tatapan matanya seperti meledekku.
"Aaah ... aku tidak pernah percaya dengan prodak-prodak pemutih. Kamu tau sendirikan, dari dulu aku pake prodak yang katanya bisa memutihkan dalam waktu enam minggu. Tapi mana buktinya? sudah enam tahun lebih aku pake prodak itu. dan kamu bisa lihat sendiri hasilnya." aku mencari si pelayan yang cantik tadi, dengan maksud ingin memesan kopi lagi. Duh ... candu rupanya.
"Hahahahhaha ..... "Dia tertawa penuh arti
"Sial" gumamku
Pulang dari warung kopi ini, kamipun sepakat untuk menemui si DIA, huehuheuehe
Labels: aku mulai iseng 17Des07, Jakarta
Sabtu, 15 Desember 2007
"Jam 5 sore di tempat yang sudah kita sepakati"
"Mau kemana?"
"Ikut saja, jangan lupa bawa pakaianmu"
tut .. tut ... telpon terputus.
Hufff ... aku tak mampu berfikir dengan jernih. ku hempaskan tubuhku di atas ranjang, pandanganku pun menarawang jauh. Semua ini membuatku makin pusing.
Aku memang sangat mencintainya, bahkan aku tak ingin jika harus kehilanganya. Dan saat ini aku harus benar-benar punya sikap atas perasaanku ini.
"Kamu jangan gila Sar !" lagi-lagi Rani berkomentar. Rani memang sahabatku yang baik, dia selalu ada saat aku membutuhkanya, selalu memberikan saran-sarannya padakau meski tak jarang aku selalu mengacuhkanya.
"Aku mesti gimana lagi ?" tanyaku datar.
"Kamu sudah terlalu banyak berkorban buat dia, tapi apa yang kamu dapat?" Rani mulai kesal denganku. Hanya karena sifatku yang keras kepala tak jarang aku dan Rani bertengkar.
Rani memang teman yang baik, makanya dia pun layak untuk ku jadikan sahabat. Sifatnya yang agak keibuan terkadang mampu membuatku berfikir dengan sedikit jernih, tapi entah kenapa kali ini aku benar-benar tidak mampu untuk berfikir dengan menggunakan akal sehatku, semua saran yang di berikan Rani sama sekali tidak kujadikana bahan pertimbanganku atau bahkan sekedar perenungan.
"Ran ... mengertilah, aku sangat mencintainya" lagi-lagi aku meminta Rani untuk bisa mengerti keadaan bahkan perasaanku, padahal tanpa ku minta pun Rani sudah pasti mengerti tentang aku.
"Iya ... aku tahu itu" jawab Rani datar.
"Kamu tahu kan Ran, aku sangat ingin selalu ada di sampingnya" perlahan aku tertunduk dan mulai terisak.
Randi ... seorang pria yang biasa saja, dia sudah mampu menyihirku dengan pesonanya. Sudah sangat lama aku mengenalnya, bahkan diam-diam aku mencintainya. Randi tahu akan hal itu, tapi aku sendiri tidak pernah tahu apakah dia juga mencintaiku.
"Tapi Sar, bukankah Randi sering menyakiti perasaanmu" lagi-lagi Rani mengingatkanku akan hal ini.
Ya ... memang benar apa kata Rani, Randi memang sering sekali membuat hatiku terluka, bahkan tak jarang aku di buat menangis atas sikapnya. tapi entah kenapa aku selalu saja bisa memaafkanya. Demi tuhan aku sangat mencintainya.
"Aku ingin bersamanya Ran, mungkin ini saatnya, dan aku yakin ini jawaban atas semua doaku" dengan sedikit tersenyum aku mulai mengemas pakaianku. Tak banyak hanya sekedarnya saja, karena mungkin nanti Randi akan membelikanku pakaian atau lebih dari sekedar pakaian.
"Gila ... kamu sudah benar-benar gila Sar. Kamu sadar gak atas keputusanmu ini? setelah sekian lama Randi pergi begitu saja tanpa mengacuhkanmu sama sekali, dan kini tiba-tiba dia datang dan menyuruhmu untuk ikut denganya" Rani tampak kesal, dengan jelas aku bisa melihat garis kecemasan di wajahnya nan ayu.
"Ran ... percayalah, aku akan baik-baik saja" sekali lagi aku coba untuk meyakinkan Rani atas keputusanku ini.
Jam empat sore, akupun berpamitan dengan Rani, dan akhirnya dengan berat hati Rani membiarkanku pergi dengan orang yang sangat kucinta.
"Hati-hati Sari, terus kabariku tentang keberadaanmu" bisik Rani lirih di telingaku. Aku hanya mengangguk perlahan.
****
Setengah jam sudah aku menunggu Randi di tempat ini, namun tanda-tanda kedatangnya belum juga terlihat.
"Ah .. barangkali dia sedang sibuk mengemas barangnya" aku mecoba berfikir positif, dan membuang jauh fikiran jeleku tentangnya. Demi tuhan aku mencintainya.
Berualangkali ku hubungin ponsel Randi, tapi tak juga di angkatnya. Satu jam sudah aku menunggunya di tempat ini. Oh ... tuhan apakah engkau masih ingin mempermainkan perasaanku.
"Randi .... kenapa dia juga belum datang sampai saat ini, atau dia juga mulai senang mempermainkan perasaanku" hatiku miris, aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Yang pasti aku akan tetap menunggunya disini sampai dia datang dan membawaku pergi bersamanya.
Jumat, 14 Desember 2007
“Sedang apa ?”
“Mengasah pedang”
“Untuk apa ?”
“Aku haus”
“Ini ku bawakan es teh manis untuk mu”
“Aku haus darah!”
“$&^%&^%^ ??”
Senin, 03 Desember 2007

Minggu ini Mamad dan Jono libur mengaji, karena guru yang biasa mengajar mereka mengaji sedang sakit, kabar yang mereka terima mengatakan kalau guru ngaji mereka sedang demam tinggi dan flu berat, kalaupun nekat datang ke ta'lim dan mengajar di khawatirkan nanti akan menularkan murid-muridnya. Maka jadilah sore ini Mamad dan Jono sepakat untuk kembali bermain bersama.
“Mad, kita main kemana nih ?” tanya Jono di tengah perjalanan mereka.
“Gue juga bingung Jon” jawab Mamad dengan santai dan tetap asik dengan roti di genggamanya.
Sore ini Mamad dan Jono benar-benar bingung, mereka terus menyusuri jalan tanpa mereka tau kemana tujuan mereka.
Padahal biasanya Mamad dan Jono setiap sorenya selalu bermain di lapangan balong. Mamad asik duduk di bawah pohon bambu sambil membuat suatu karya, entah itu ketapel, layang-layang, atau kuda-kudaan dari pelepah daun pisang. Mamad memang mempunyai tangan yang amat sangat kreatif, benda apa saja yang dia pegang bisa dia jadikan suatu karya (kecuali makanan).
Lain halnya dengan Jono, bocah yang berperawakan kurus ini bila sudah di lapangan balong, sudah pasti dia langsung beraksi. Mulai dari main kasti, galasin, tak jongkok bahkan nimbrung main lompat tali bersama anak-anak perempuan (maklum aja Jono anak yang supel, dia gak kaya Mamad yang rada pemalu). Namun sebenarnya Jono paling suka bermain bola, Jono cukup lihai bila menggiring bola, setiap bermain poisinya selalu menjadi gelandang-an (klo main bola Jono suka sembarangan, hantam sana, hantam sini. Main kasar gitu deh)
“Jon ... lu kenapa gak main bola aja di lapangan, kan biasanya lu main bola ?” Mamad tahu betul hoby Jono, dan Mamad pun tahu kalau jono bercita-cita ingin menjadi pemain bola seperti David Becham.
“Males ah ... abis lu gak mau ke lapangan balong. Nanti kalau gue main bola siapa yang nyorakin(nyemangatin) gue” Jono memang suka benget sama yang namanya main bola, tapi kalau Mamad gak mau nonton dia main bola, maka maleslah si Jono main bola. *halah ...aleman si Jono
Sudah tiga hari ini Mamad enggan bila di ajak main kelapangan, lantaran kamis sore lalu, Mamad melihat sosok aneh di sudut lapangan. Seseorang bertubuh besar berdiri tegap seolah sedang mengawasinya, dan yang membuat Mamad takut adalah sosok itu besar namun besar tubuhnya tidak seperti orang kebanyakan, sosok yang Mamad lihat amat tinggi, dan tingginya itu hampir setara dengan tiang antena TV Mak Jum. *menyeramkan, Mamad saja sampai terkenjing-kencing saat itu.
“Mad .. Mad ... liat deh !” tiba-tiba Jono menarik tangan Mamad.
“Aaaah ...elu Jon, narik-narik lagi. Roti gue jatoh dah!” Mamad yang sedang lapar berat langsung cemberut sambil menatap rotinya yang ia perkirakan masih bisa tiga kali suap lagi.
“Hehehehe .. maaf ya Mad, nanti di rumah gue ganti deh. Janji!” Jono langsung merangkul Mamad, agar Mamad tidak lagi cemberut.
“Ada apa sih, elu narik-narik gue?” Mamad masih memandang rotinya yang terjatuh.
“Itu Mad .. liat deh! .. gotnya banyak kecebongnya” dengan kompak kepala Mamad dan Jono memandang ke arah got yang lebar * jadi muatlah kalau Mamad nyemplung kesitu.
“Wah ..iya Jon, banyak banget, masuk yuk Jon, kita tangkep-tangkepin kecebongnya” Mamad segera melepas sandalnya, lalu masuk kedalam got.
Tanpa di komando lagi Jono segera mencari kantong plastik untuk di jadikan wadah kecebong. Lalu ikut masuk ke got bersama Mamad.
Sore itu Mamad dan Jono asik dengan permainan barunya, yaitu mencari kecebong di got yang berada di komplek perumahan elit.
“Cari yang banyak Mad, nanti kita jual ke anak-anak!”
“Iya Jon, nanti uangnya kita bagi dua”
“seeppp ... !!”
Labels: serial JoMad
Kamis, 22 November 2007

Pagi-pagi bener bini gue si Siti dah rapi. Semaleman die manyun aje ke gue, gue di tinggalin sendiri di kamar. Aah.... ini semue gare-gare anak gue Fatimah yang naksir ame si Ahmad anaknya si Jalum musuh bebuyutan gue.
“Ti ... lu serius mau pegi ke tempat Emak lu?” gue coba ngerayu bini gue, yang pagi ini masih tetep manyun.
“Iye ... !! si Fatimah juga aye ajak, aye kagak tega Bang liat Fatimah mewek mulu semaleman, sapa tau ntar di rumah Nyak tuanye die ngerasa kehibur.” Masyaallah tumben bener logat ngomongnye si Siti ketus amat ke gue.
Terus terang aje gue jadi bingung, Siti ntu bini gue nyang paling baek, die orangnye sabar bener jarang banget marah ma gue. Tapi neh pagi, die bener-bener berubah kagak bisa di rayu lagi. Padahal biasenye kalo die ngambek trus mo kabur ke rumah Emaknye, gue rayu dikit juga langsung kelepek-kelepek trus kagak jadi deh die pegi.
***
Dah masuk tiga hari ini bini gue ma anak kesayangan gue pegi dari rumah. Ya ampun dah, gue bener-bener dah kayak orang dungu di rumah sendirian, kagak ada nyang bikinin sarapan, kagak ada nyang bikinin gue kupi, kagak ada nyang ngurusin gue.
Fatime .. pulang nape Neng, badan Babe pegel-pegel kangen pingin di pijit ame lu. Siti … yayangnye gue, lu ngapa jadi begini sih, pegi ninggalin gue. Ape emang gue nyang egois ye ?, tapi ini semua gue lakuin buat kepentingan anak gue juga, gue kagak mau kalo nanti idupnye fatimeh keblangsak gara-gara die kawin ma Ahmad, anaknya musuh bebuyutan gue.
“Assalamualaikum … Assalamualaikum .. .“ Duh .. siape si, ganggu orang lagi ngelamun aje. Gak tau ape tu orang kalo gue lagih sedih.
“Iye …. Bentar .. !! etdah kagak sabaran bener nih orang.” Masyaallah .. gue baru nyadar kalo rumah berantakan bener, mana ade tamu lagi, biarin dah ah .. belaga cuek aje.
“Waalaikumsalam … .“ Eh .. buset deh, Astagfirullah .. si Jalum nyang dateng, mo ngapain die kemari?
Tiba-tiba aje kepala gue jadi semaput, mau ngapain si Jalum kerumah gue ? mau ngajakin rebut ape die. Cemen banget si Ahmad, pake ngadu-ngadu ke Babenye. Tapi tenang, gue kudu jaim di depan si Jalum, gue kagak boleh gegabah.
“Maaf, Sien kalau kedatengan gue bikin lo kaget. Gue cuma mau silaturahmi aje ma lu.” Rese banget da ah, ternyata si Jalum tau kalau gue kaget liat die. *tarik napaaasss … buang pelan-pelan (ajaranya fatimah nih, katanye kalo pingin tenang cara paling gampang ya begini ini).
“Duduk di bale luar aje ye, di dalem panas.” Huh .. pantang bagi gue, nagajak si Jalum masuk ke dalem rumeh gue.
“Iye dah … di luar aje biar adem”
Haduuhh .. kenape juga ni manusia dateng saat gue lagi begini, saat gue lagi sedih. Pada tau sendiri dah, gue kalo lagi sedih kagak bisa ngontrol emosi. Bisa-bisa si Jalum kena bogem gue nih. “Astagfirullah ..”
“Rumah lu sepi amat Sien, bini ama anak lu pade kemane?” tampang si Jalum celingak-celinguk nyariin bini gue. Kurang ajar !
“Lagi pada belanja ke pasar.” Tuh kan .. gue jadi bo’ong dah, ya abis mo gimana lagi, masa gue bilang bini ama anak gue kabur pan kagak lucu, bias-bisa si Jalum ngetawin gue.
Semenit .. duamenit gue ama Jalum cuma diem-dieman aje, bingung gue mau ngomong ape ma die, jangankan ngomong, liat tampangnye aje dah males banget. Sambil nunggu die duluan nyang ngomong gue sibuk nyundut rokok buet gue.
“Bagini Sien, maksud kedatengan gue kesini baek, bukanye gue mau ngajak lu ribut kayak dulu. Eh ..iye Sien soal nyang dulu gue bener-bener minta maap ye, gue ngaku salah dan sekali lagi gue ucapin selamet ye karena elu dah berhasil ngegaet hatinye Siti.” Hhahahhaha … akhirnya dia ngaku salah juga ke gue. Bagus dah.
“Trus … lu mau ape kesini ?!”
“Oke .. Sien, lu pasti dah tau pan kalo si Ahmad ntu anak gue, dan elu juga pasti udah tau kalau anak gue Ahmad cinte ama anak lu yang cantik ntu si Fatimah. Husien .. maap banget sebelumnye, bukanye gue mao ngeguruin elu, tapi udah dah Sien, lu kagak usah hubung-hubungin musuhan kita nyang jaman dulu ama masalah cinte anak-anak kite.” Tampang si Jalum mendadak pucet, die pasti dah ketakutan kalo gue bakal ngamuk. Dari dulu si Jalum dah tau watak gue. Senggol bacok! .. *wakakkaka .. garang gak tuh ?.
“Trus …?!”
“Ya .. gue minta lu bisa ngertiin ini. Gue harap lu bisa ngerestuin hubungan mereka” tampang Jalum makin pucet, kakinya masang kuda-kuda buat siap-siap kabur, takut kalau tiba-tiba gue kalap.
“Tengil banget laga lu !. emang anak lu punya ape ? berani-beraninya ngelamar anak gadis gue!” Masyaallah .. gue jadi nyombong dah.
“Maaf Sien .. gue gak maksud tengil didepan lu, tapi coba lu pikirin lagi masalah ini. Ya udah ye Sien, gue balik dulu” tanpa di komando dan di usir, Jalum langsung pamit pulang. Payah banget tu orang!.
*****
Sekarang dah masuk hari ke lima, bini ama anak gue pegi dari rumah. Neh … malem sepi banget mane di luar gerimisnye awet bener. Duh … gue kesepian dirumah sendirian. Perut gue laper, baru di tinggal lima hari berat badan gue dah turun, apalagi kalo di tinggal sebulan. Bisa kurus kering gue.
Rumah juga dah kayak kandang orang, berantakan gak keurusan. Debu pada nempel di mane-mane, sepre di kamar gue aut-autan, gue bener-bener kesepian kagak ada Siti ma Timeh. Kerjaan gue tiap hari jadinya cuma bengong aja, mundar-mandir kagak jelas.
Di sini … bawah pu’un sengon ini tempat paporit gue, ini pu’un warisan engkong gue, biasenye gue sering duduk disini ame Siti sambil ngobrol, kadang-kadang sambil becanda.
Dah abis lima batang rokok yang gue isep, tapi Siti ma Timeh lom juga balik. Rokok keenem gue sundut lagi, gue isep sambil nginget omonganye si Jalum dan si Siti bini gue. Ape emang gue terlalu egois ye?. Bener juga sih yang di bilang si Jalum, dan emang ada benernye juga yang di bilang bini gue. Tapi gimane dong, gue masih empet bener ama si Jalum.
Sebatang demi sebatang, akhirnya abis juga rokok gue sebungkus (gile kuat bener ngerokoknye). Oke dah, besok gue bakal kerumah Nyak tuanye si Timeh, gue mau ngejemput Fatimah ama bini gue. Gue kagak tahan idup sendirian begini.
*****
“Fatimah … anaknya Babe nyang paling cakep, nyang paling manis, nyang paling soleh. Babe minta maap ye, Babe dah nyakitin perasaan lu.” Duh ,,, gue jadi pingin nangis.
“Siti … bini Abang nyang paling cantik, nyang paling baek, maapin Abang juga ye, Abang udah egois kagak mau dengerin masukan dari elu” yaeeelaahh .. gue ngapa jadi mellow gini yak. Dah kayak vokalisnya band NIWA aje… suka mellow-melow gak jelas gitu .. hehhehe.
Dengan semilyar rasa sayang nyang gue punya, gue peluk erat dah tu anak ma bini gue. Sementara ntu Nyak tua cengar-cengir aje mamerin gusinye.
“Jadi … Babe setuju kalau Fatimeh kawin ame Bang Ahmad?”
“Iye … Neng, Babe setuju. Tapi Babe punya atu persyaratan buat si Ahmad, dan die kudu menuhin pesyaratan dari Babe. Kagak boleh kagak, kudu, harus, mesti, wajib dia laksanain!” Sebagai orang tua nyang baik, gue pingin tau seberapa pengetahuan calon mantu gue tentang agama.
“Persyaratan apa lagi Be?” Muka Fatimeh keliatan tegang, sementara bini gue sibuk ngelus-ngelus punggung Fatimeh. Biar rada tenang gitu.
“Ada deh … lo suruh aja si Ahmad dateng kerumah. Dan ntar biar Babe jelasin apa peryaratannye”
******
Malam ini rencananye si Ahmad bakal nemuin gue lagi, dan malam ini gue bakal ngajuin satu persyaratan ke die.
“Be … persyaratan ape yang kudu aye penuhin supaya aye bisa meminang anak Babe.” Ngeliat tampang si Ahmad gue jadi inget Jalum. Duh … masih aja gue kesel ma die. Asttagfirullah
“Begini Mad, cuma atu persyaratanya, elu kudu khatam qur’an di depan gue” spontan aje Fatimah, Siti ama Ahmad kaget denger pensyaratan yang gue kasih. kata orang dulu mah. klo die dah bise ataw dah sering hatam Alquran, Insya Allah Syarat-syarat untuk menjadi Imam untuk keluarganye udeh bise dah. Makanya gue pingin tau semana kemampuanya si Ahmad.
“Abang yang bener aje, kudu khatam quran di depan Abang, pan banyak banget Bang, bisa pegel mulut anak orang” muka Fatimah ikutan tegang tapi si Ahmad tiba-tiba jadi keliatan lebih santai.
“Baik Be, aye bakal khatamin Qur’an di depan Babe sekarang.” Buseett .. ni bocah nyalinye gede juga, dia berani nerima tantangan gue.
Fatimah buru-buru masuk ke dapur ngambil air putih bakal si Ahmad. Sementara Siti bini gue duduk dengan harap-harap cemas di samping gue * loh ..kok jadi bini gue sih yang H2C
Bissamillahirahmanirohim …. Setelah itu Ahmad membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali.
“Udah Be, aye dah ngekhatamin Al-quran”
“Khatam ? gimana ceritanye, elu Cuma baca surat Al-Ikhlas tiga kali doang” gue merasa di permainkan ama si Ahmad.
“Jadi begini Be, aye inget ama kisah pada jaman Rasullah dulu. Waktu para sahabat mau meminang anaknya Rosul syaratnya juga sama. Dan akhirnya persyaratan tersebut bisa di penuhi oleh Sayyidina Abu Bakar (kalo ga salah) yaitu hanya dengan membaca tiga kali surat Al-ikhlas. Karena Rosul pernah bersabda Al-ikhlas itu 1/3 nya AlQuran dan artinye klo bacanya tiga kali berarti sama saja kita sudah khatam Alquran. Tapi ini bukan berarti kita senaknya tiap hari cuma kudu baca surat Al-Ikhlas aja, terus kagak baca Quran.”
“Ooo .. jadi begitu, bener juga kata si Ahmad Bang, dari pada die makan waktu baca qur’an ampe kelar di rumah kite, mending die ngikutin jejak sahabatnya Rasul kite. Lagian kalo si Ahmad ngekhatamin quran seharian dirumah kite ntar tugas dan kewajiban die di luar jadi terlantar.” Bini gue ikutan nimbrung ngomong. Tapi emang iya juga sih.
“Jadi begitu Be, buat ape juga aye khatam Quran sekarang, tapi aye gak tau makna dan isinya”
Buset … ternyata pengetahuan agama si Ahmad lumayan juga, emang bener apa kata dia, buat apa bulak-balik khatam Quran tapi gak paham ama isinya, sama aja boong. Fatimah .. Fatimah emang kagak salah lu milih calon laki, pantesan lu ngebet banget pingin di kawinin ama Ahmad.
“Ahmad … Babe salut ame lu, lu emang pemuda yang bisa di andelin, lu kagak sombong juga kagak banyak tingkah. Bulan depan lo dateng lagi deh kemari, bawa Nyak ame Babe lu ye!” Tampang si Ahmad langsung seger, udah kayak kembang yang kena ujan. Fatimah pun keliatan malu-malu tapi mau.
“Alhamdulillah … “ Bisik Bini gue ….lirih.
Labels: kolab with My bro
Selasa, 20 November 2007
“Pak, saya mau ikutan main bola.”
“Main bola ?”
“Iya, di lapangan. Di suruh sama ibu RT”
“Ah .. ada-ada aja Emak nih!”
“Sekali-kali Pak, lomba Pak lawan RT.02. Boleh ya Pak?”
“Kau jangan bikin malu aku Mak, masa kau sudah nenek-nenek mau main bola.”
“Enak aja .. Emak di bilang nenek-nenek. Boleh ya Pak ya ?!”
“Anak kau yang keci sapo yang jago?”
“Ya … Bapaklah, ajak aja dia nonton Emak di lapangan”
“Aiiihhhh … kau Mak, mulai pandai kau merintah aku”
Emak mengganti daster bututnya dengan celana pendek dan kaos hitam milik anaknya yang laki-laki. Lalu Emak memakai sepatu sport milik Bapak, dan memakai pelembab wajah milik anak gadisnya. “Supaya gak item karena kepanasan” begitu kata Emak.
“Pak, Emak boleh minjem sepatunya ?”
“Pakailah !, awas jangan sampai jebol, kalau jebol ku potong uang belanjamu !”
“Uang belanja dah ngepas, pake mo di potong segala.”
“Makanya hati-hati Emak pake sepatu Bapak, sepatu mahal tuh. Jauh belinya .. di Bukit Tinggi.
“Ayooo .. Pak! Sekalian ajak anaknya ke lapangan biar gak nangis”
“Jalanlah kau dulu, nanti aku susul”
“Pegi dulu ya Pak, jangan lupa nyusul, liat Emak tanding, sekalian kasih semangat gitu .. heheheh”
“Eeehhh ….. Te’ sulai”
Bapak masih enggan untuk melihat Emak beraksi di lapangan, namun karena bungsunya si Bapak nangis, terpaksalah Bapak membawa bungsunya ke luar rumah. Dengan langkah yang masih ogah-ogahan, akhirnya Bapak ke lapangan liat Emak main bola.
“Nangis ya Pak ?”
“Iya .. nangis nih anak kau!”
“Yah … tanggung Pak, satu babak lagi”
“Aiii .. kau nih Mak!. Menjerit lagi nanti anak kau, gak tau aku ya!”
“Didiemin lah Pak. Tega banget ma Anak”
“Iya .. bawel kau!. Sudah sana ! Di panggil wasit kau Mak”
Emak kembali ke lapangan. Kini Emak mulai beraksi kembali.
“Lari Mak … kejar bolanya Mak ……. ah payah kali kau Mak!
“Hehehhehe … sepatunya kebesaran Pak”
“Kayak mana kau ngiketnya?, yang kuatlah. Sini biar ku ikat”
“Yang kenjeng Pak, biar mantep larinya”
“Iya .. "
“Ya’ tendang Mak! .. lari Mak! .. kejar Mak! … Hantam Mak! … Libas Mak! …. Goallll … hebat kau Mak!”
“Hahhahah …. “
“Bini aku itu !!!”
Tanpa sadar Bapak menikmati permainan Emak. Tak di sangka Emak mencetak 2 goal satu goalnya di cetak oleh kawan Emak Mpok Rini. Dan team Emak menang 3-1.
Labels: iseng aja
Jumat, 16 November 2007

"Membuat cerita ini bersama Mamad Kacrut ^_^"
“Mad … ntar pulang ngaji kita main ke Balong yuk sama anak-anak yang laen !” Jono mengajak sahabat karibnya untuk bermain bola di lapangan Balong. Jono hoby sekali bermain bola, dia bilang kalau besar nanti dia mau jadi pemain bola seperti David Beckam.
“Ogaaahh aaahh Jon..gue mau nyelesein bikin ketapel biar besok bisa nyari Cicek”, Mamad menolak secara halus ajakan sahabat karibnya. sesungguhnya Mamad memang tidak begitu ingin untuk bermain di lapangan Balong, karena lebih penting baginya untuk membuat ketapel daripada harus mengeluarkan keringat. Sebenarnya bagi Mamad yang berbadan bongsor, menghabiskan sore hari di lapangan adalah suatu hal yang sia-sia, karena keringat yang keluar harus digantikan oleh nutrisi yang seimbang, dan itu hanya berarti satu hal, MAKAN.
Jono dan Mamad adalah dua orang bocah yang sudah bersahabat sejak masih dalam kandungan. Ibunya Jono dan Emaknya Mamad adalah sahabat karib semenjak jaman SMA dulu, mereka hamil pada saat yang bersamaan dengan usia kandungan yang sama pula, dan rumah merekapun satu atap satu dinding, maklumlah rumah petakan. Jadi bila saat Ibunda Jono dan Emaknya Mamad sedang ngerumpi, maka ngerumpi pulalah .. janin Mamad dan janin Jono … hehehhe ngasal.
Jono dan Mamad sama-sama duduk di bangku kelas 5 SD, namun mereka tidak sekelas, Jono kelas 5A sementara Mamad kelas 5B. Jono dan Mamad bisa di bilang bocah yang sangat usil, nakal, petakilan, banyak tingkah, namun IQ mereka tak di ragukan lagi (tak di ragukan kerendahannya ..maksudnya).
Jono, anak dengan perawakan kurus bahkan bisa di bilang ceking, tubuhnya tinggi engga, pendek juga engga, dengan ukuran badanya yang seperti itu Jono bisa bergerak lincah seperti bola bekel, masih doyan ngompol, kalo makan pedes suka histeris, mukanya kayak ikan Mujaer kekurangan makan, karena kadang mulutnya monyong-monyong sendiri.
Sementara Mamad bocah yang mempunyai ukuran tubuh yang tidak sewajarnya, pemalas kelas berat, setiap makan tidak cukup hanya dengan satu tangan, wajahnya bulat dan seperti hasil perselingkuhan antara Kuda Nil dengan Panda Beijing (gak usah di bayangin)
“Yaeelaaah .. elu Mad, gak metal banget sih tiap gue ajakin main bola gak mau mulu, lu maunya cuma nonton sambil ngejogrok kayak Kebo lagi ngubang, kaya gak ada kerjaan laen aja lu” Jono mulai kesal dengan sohibnya.
“Ah … elu Jon, lagian kalo gue main bola ntar lu bingung bedain bolanye ma perut dan pantat gue” jelas Mamad yang sadar bahwa bentuk badannya seperti bola.
”Ntar…maksud hati elu mau nendang bola, malah nendang pantat gue,” lalu Jono pun tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan sohibnya.
“Ya udah Mad..terserah elu deehh..tapi ntar kalo lu bikin ketapel sekalian bikinin gue ye Mad, trus jangan lupa abis itu lu susul gue ke lapangan Balong lu liatin gue main bola ya Mad” Jono memang suka sekali pamer kelihaiannya saat bermain bola, sementara di pinggir lapangan Mamad akan teriak-teriak menyemangati Jono, sambil mengunyah apapun yang bisa dia kunyah.
****
Sore itu langit begitu mendung dan sesekali terdengar suara petir menyambar di kejauhan. Jono terlihat bersemangat sepulang dari Ta’lim tempatnya mengaji, dan langsung melepas sarung, peci serta baju koko kesayanganya, asal buka, asal lempar, asal goblek, asal gak kena poster David Beckham kesayangannya.
“Buuuuuuuuu … baju kaos Jono yang ada gambar kodoknya mana ?!” teriak Jono sambil terus mengacak-ngacak lemari pakaianya.
“Lagi ibu rendem Jon, kemarinkan abis kamu pake, udah dekil, bau, kena ompol kamu jugakan semalam” jawab Ibunda Jono dengan lembut dan penuh kasih sayang. Walaupun sebenarnya ulah Jono sering membuatnya mengusap-usap dada, tetapi dia tetap sayang kepada Jono, anak semata wayangnya. padaha kecilnya tubuh Jono gak sekecil mata wayang.
“Yah…. Ibuuu” Jono cemberut. Baju kaos bergambar Kodok adalah baju kesayangan Jono, baju itu dia dapat dari Mamad saat ulang tahunya taun lalu. Ibunda Jono hanya tersenyum sambil merapikan sarung, peci dan baju koko milik Jono.
“Emang kamu mau kemana lagi Jon? Kan udah mendung, nanti kalau kamu kehujanan terus sakit gimana ??!” Ibunda Jono terdengar khawatir.
“Mau maen bola Bu” jawab Jono singkat.
“Kamu tuh ya … main bola teruus, awas ya kalau nanti malam ngompol lagi, Ibu sunatin kamu !!” ancam Ibunda Jono. Meski sudah kelas 5 SD Jono masuh takut untuk di sunat
“Jono gak mau Bu, kalau Anunya Jono di potong, lagian ibu jahat banget sih!,” Jono protes, mendengar ancaman yang membahayakan Anunya.
“Bentuk Anunya jono kan udah bagus begini Bu..ngapain pake mau dipotong segala sih?!” Jono berkilah saat di kampungnya akan di adakan Sunatan Masal. Berbeda dengan Mamad, saat itu Emaknya Mamad bisa dengan mudah membujuknya untuk ikut Sunatan masal, dengan hanya diimingi sepiring nasi uduk porsi jumbo dan sebotol limun, Mamad langsung mau merelakan Anunya disunat. Maklum, Mamad selalu menjadi lemah dan patuh apabila dijanjikan bonus makanan gratis.
Dengan cepat Jono mencium tangan Ibunya “Jono main bola dulu ya Bu. Assalamualaikum” pamit Jono sambil berlalu secepat mungkin. Sementara Ibunda Jono hanya melihat anak kesayangannya berlalu, sambil menggelengkan kepalanya.
****
Dengan santai Mamad menghaluskan batang kayu yang mirip bentuk huruf Y yang nantinya akan digunakan untuk membuat katapel. Mamad sebenarnya memiliki tangan yang terampil, tapi sayang keterampilannya itu selalu bisa dikalahkan oleh rasa malasnya yang memang sudah mencapai tahap kritis.
“Wooiii Mamad…jadi nonton gue maen bola gak?? Buruan donk..udah kesorean nih!!”, teriakan histeris Jono mengejutkan Mamad yang sedang asyik menggosok batang katapel.
“Dasar kampret item…bikin gue kaget ajah lu Jon…kalo gue sakit perut gara-gara kagetkan kasian masakan yang udah dibikin Emak!!”. Jono hanya tersenyum takjub melihat kelakuan sahabatnya.
Akhirnya setelah merapihkan peralatan membuat katapelnya, Mamad dan Jono memulai perjalanan mereka menuju Lapangan Balong, tempat mereka bermain. Selama perjalanan ke lapangan Balong, kedua sahabat karib ini berangkulan mesra sambil bersenandung riang.
Siang bolong jangan pade bengong
Kaya Mamad ompong makan kedondong
Yang di kampong, ampe rumeh gedong
Semua nonton , Jono ma Mamad main di Balong
“Hahahahah ….. maksa banget lu Jon syairnya” protes Mamad.
“Biarin aja … EGP” jawab Jono santai
“EGP? Apaan lagi tuh ?” Tanya Mamad penasaran.
“Emang Gue Pikirin, ahhh payah lu gitu aja gak tau. Dudulz !.”
Ketika lapangannya sudah terlihat di depan mata, terlihat Jono semakin sumringah, sementara Mamad terlihat santai, sambil melihat ke kanan dan kiri, mencari posisi yang teduh dan nyaman untuk mendudukkan pantatnya yang selebar gerbang sekolahan (ah terlalu berlebihan).
Ketika jono akan berlari menyambut teman-temannya yang terlebih dahulu sampai di lapangan, tiba-tiba terdengar suara halus dan mematikan “prêt…preeett..preeeettt”, Jono yang terkejut mendengar suara misterius itu, melirik kearah sahabatnya si Mamad yang tersenyum malu-malu, dan dengan santainya berkata, “Maab Jon..gue udeh kagak nahan..daripada masup angin…hehehehe”. Jono kembali hanya mampu geleng-geleng melihat kelakuan ajaib sahabatnya itu. (Maab ? hahhahah pake b, kayak qolqolah aja).
****
Seperti biasanya lapangan Balong terlihat begitu ramai dengan anak-anak yang bermain. Mulai dari yang bermain layang-layang, sepakbola, dampu, sampai yang lomba menangkap cacing di ujung empang dekat lapangan. Sementara itu Jono dan Mamad terlihat bersemangat dan bergelora. Jono bersemangat karena akan memperlihatkan kelihaiannya bermain sepakbola, sementara Mamad bergelora melihat jajaran penjual makanan yang berada di pinggir lapangan.
Kedua sahabat itu langsung sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jono mulai memasuki lapangan bola dengan gaya seorang atlit bola profesional. Mamad juga mulai terlihat mengatur strategi untuk menghabiskan uang jajannya di tangan para penjual makanan. Dan hari pun semakin sore, sementara mendung terlihat semakin pekat dan petir terdengar menyambar semakin keras.
Hujan yang dari tadi menunggu untuk mengguyur bumi, akhirnya turun dengan derasnya. Sebagian anak-anak yang tadinya sedang bermain dengan gembira mulai berlarian mencari tempat berteduh atau pulang ke rumahnya sebelum badannya semakin basah, sementara sebagian lainnya justru malah semakin gembira melihat hujan telah turun dengan derasnya, dan mulai sibuk berkejar-kejaran, saling berlomba menjatuhkan satu sama lain, termasuk Jono dan Mamad. Terdengar tawa riang yang ditimpali suara kecipak air yang menggenangi lapangan.
“Hiaaaaattttt…”, Jono terlihat mencoba naik ke atas punggung Mamad yang empuk, “huwaaaa…”, Mamad yang kehilangan keseimbangan langsung terjatuh bersama-sama dengan Jono di atas punggungnya, lalu secara serempak mereka tertawa dengan puasnya. Tiba-tiba Mamad membalikkan badan dan secara tak sengaja menarik celana Jono ke bawah ketika hendak berdiri.
“Waaahhhhh Jono belom disunat….” terdengar teriakan dari salah seorang anak yang sedang bermain. Tiba-tiba semua mata menoleh kearah Jono, dan Jono hanya tertegun menyadari bahwa celananya telah berada di bawah lututnya, mukanya langsung merah-kuning-hijau seperti traffic light di simpang jalan. Semua anak-anak langsung tertawa terbahak-bahak, termasuk si Mamad.
Jono langsung berlari sekencang-kencangnya tanpa mempedulikan sekitarnya, sambil menyeka wajahnya yang basah terkena air hujan. Belum pernah sekalipun dia merasa dipermalukan seperti yang baru saja terjadi. Jono merasa begitu terasing, aneh, bingung dan kalut, karena hanya dia sendirilah yang anunya belum disunat.
Sesampainya di rumah, Jono langsung menghambur ke dalam pelukan Ibunya sambil menangis sesengukan. Ibunda Jono terkejut melihat kelakuan anaknya, dan langsung mendekap anaknya.
“Jon..Jono..kamu kenapa nak?” Ibunda Jono terdengar khawatir karena Jono tidak berhenti juga menangis.
“hayoo..bilang sama ibu sapa yang bikin kamu nangis??!”, Ibunda Jono semakin terdengar khawatir karena anak kesayangannya tetap menangis tanpa menjawab pertanyaannya.
Tak lama kemudian Mamad terlihat berlari tergopoh-gopoh kearah rumah Jono. Ketika sampai di depan pintu rumah petaknya Jono, Mamad langsung berteriak dengan penuh semangat, “Jon..elo kagak nape-nape kan??”, Mamad melongokkan kepalanya dari balik pintu, Mamad melihat sahabatnya sedang dipeluk oleh ibunya.
Seketika Jono menoleh, “Dasar kodok bantet..cumi gondrong…gorilla picek..bla..bla..bla” secara serentak keluar segala jenis cacian dan makian dari mulut Jono. Mamad hanya tersenyum tak berdosa seraya berkata, “Kan gue kagak sengaja Jon..maab dah”.
Setelah keadaan mulai mereda akhirnya Mamad mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ibunda Jono hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum menahan tawa. “Ya udah…kan ibu sudah sering bilang ke kamu supaya anu kamu disunat.” Ibunda Jono berkata dengan bijak sambil mengusap-usap kepala Jono dengan penuh kasih sayang.
“Iyah Bu…pokoknya sunatan masal besok Jono rela anunya Jono disunat,” Jono berkata penuh kepercayaan diri. Mamad hanya tersenyum lega mendengar kata-kata sahabatnya.
Seperti biasanya, semenjak aku sudah tidak bekerja di pabrik, setiap pagi aku membersihkan halaman rumah, dari mulai menyapu, merapikan rumput-rumputnya dan menyirami semua tanaman. Di desa ini aku tinggal bersama Emak dan dua orang adikku, sementara Bapak sudah lama meninggal karena penyakitnya. Emak hanya seorang pedagang sayuran di pasar, kedua adikku, Budi dan Ani mereka masih duduk di bangku SLTP. Rumah kami amat sangat sederhana, tapi kami mempunyai taman yang cukup terawat, di depan rumah aku tanami dengan beberapa macam jenis bunga, sementara di samping dan belakang rumah aku tanami dengan beberapa jenis tanaman buah dan sayur-sayuran.
“Nur, apa kamu benar-benar sudah tidak mau bekerja di pabriknya Pak Samid ?”, tanya Emakku saat kami berdua sedang duduk di teras rumah. Sesaat aku teringat kejadian seminggu yang lalu, saat itu Pak Samid menyuruhku untuk datang keruangannya, dia bilang ada yang mau di bicarakan denganku, yah … sebagai seorang bawahan, aku turuti saja permintaanya tanpa menaruh curiga sama sekali kepadanya. Dan malam itu aku datang ke ruangannya. Pak Samid sangat ramah sekali dengaku. “Duduk Nur, santai sajalah gak usah tegang begitu”, dia mempersilahkanku duduk di sofa ruangan kerjanya, lalu dengan sedikit sungkan aku pun duduk disana.
Hampir setengah jam aku berada di ruangan Pak Samid. banyak juga yang kami bicarakan, mulai dari menanyakan kabar keluargaku, sampai menanyakan hal-hal yang menyangkut pribadiku.
“Maaf Pak, sebenarnya tujuan Bapak memanggil saya ke sini apa ?”, aku coba beranikan diri untuk mengalihkan pembicaraan ini. Lalu Pak Samid mendekatiku dan berdiri di belakangku. Aku menjadi risih dibuatnya. “Santai saja lah Nur, kamu gak usah tegang begitu di sini hanya ada kita berdua, jadi kamu tenang saja ya”, aku semakin merasa ketakutan Pak Samid menatapku dengan sorot matanya yang liar.
Aku masih berada di ruang kerja Pak Samid, sekilas ku lihat jam di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sementara Pak Samid masih terus menatapku dengan sorot matanya yang seolah ingin menerkamku, aku sangat gugup aku takut semakin ia menatapku semakin aku salah tingkah. Pak Samid memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kakiku, aarrggg .. !!! seragam ini membuatku semakin risih saja, seragam dengan kemeja lengan pendek dan rok hitam yang panjangnya hanya selutut, sehingga bila aku duduk, maka akan naiklah rok ini, saat ini aku semakin sibuk menutupi separuh pahaku, yang rupanya menjadi salah satu perhatian Pak Samid saat ini.
“Maaf Pak saya harus pulang, sudah larut malam saya takut Emak saya khawatir” akupun bergegas berdiri dan menuju pintu ruangan ini, Pak Samid tidak menghalangi langkahku dia hanya tersenyum menatapku. “Hahahaha … Nur .. Nur, pintu itu sudah kukunci dan kau tidak akan bisa keluar tanpa kunci ini”, dia terus tertawa sambil memainkan kunci yang ada di tanganya. Aku semakin ketakutan aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada ku. “Pak … saya mau pulang Pak, izinkan saya keluar Pak, saya mohon “, aku menangis dan mengiba padanya.
Pak samid mendekatiku, akupun semakin ketakutan, air mataku mengalir. Semakin aku ketakutan semakin Pak Samid terlihat gembira. Lalu ia menarik tanganku, memelukku dengan erat hingga aku sulit bernapas, dia berusaha untuk mencumbuku, dan aku mencoba melepasakan diriku dari pelukanya, tapi gagal … tubuh Pak Samid jauh lebih besar dariku dan tenanganya pun jauh lebih kuat dari aku. Aku tak kuasa melawannya. “Toloong … toooolllloooooong” aku teiak dengan sekencang-kencangnya, namun sia-sia, sepertinya tidak ada yang mendengarku. “Ssttt … jangan teriak Nur, disini hanya ada kita berdua, jadi lebih baik kau muruti saja semua kemaunku”. Pak Samid tertawa dengan amat keras, dia seperti macan yang akan segera melahap habis mangsanya.
“Lepaskan saya Pak, apa salah saya” aku terus berusaha berontak, aku menangis sejadi-jadinya, dan juga terus berusaha meminta tolong kepada siapapun yang mungkin mendengar jeritanku, serta menghentikan nasib buruk ku ini.
“Toloong ..tooloong…nngggg…hhmmmppp” suaraku terbenam saat pak Samid melumat bibirku seperti seekor lintah yang menghisap sari kehidupanku, darahku, dan kesadaranku, aku tak bisa teriak, aku terbungkam dan merasa semakin tak berdaya. Pak samid semakin garang dan mulai mencoba melucuti pakaianku.
“Lepaskan saya pak .. lepaskan” Pak samid hanya tertawa dan mulai melepaskan pakaiannya satu per satu.
“Ampun Pak .. apa salah saya” lalu Pak Samid berhasil menanggalkan pakaian yang masih menempel di tubuhku yang semakin lemas, aku menangis. Pak Samid terasa semakin kurang ajar dan bernafsu mencumbuku.
“Tolong … toloooong” suaraku hampir habis, Pak Samid akhirnya berhasil membuatku bugil … aku sudah benar-benar bugil sekarang, tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhku. Aku merasa seperti seorang bayi mungil yang tak berdaya diatas cengkeraman nafsu bejad Pak Samid.
Pak Samid, menghentikan aksinya, semula aku pikir dia iba melihatku, maka dengan sigap aku berlari menuju jendela ruangan pak Samid, namun sial .. ternyata jendela ini juga sudah di kuncinya.
Pak Samid hanya diam sambil menatapku yang berlari dengan bugil di ruangannya. Dan tiba-tiba Pak Samid menarikku rambutku, dan menjatuhkanku di atas sofa ruang kerjanya.
“Lepaskan saya … lepaskan .. !!” aku mencoba berontak, tapi gagal, tenaga pak Samid cukup kuat untuk menahan tubuhku dalam dekapannya.
“Diaaaaammm …” Pak Samid mulai berbicara, dan akupun terdiam. Aku menahan rasa takut yang teramat sangat sambil terus menerus berdoa semoga ini semua hanya mimpi burukku saja.
“Ampun Pak, lepaskan saya, apa salah saya”, aku mengiba padanya “Sstttt .. diam!!”, hanya itu ucapanya. Aku hanya menangis, aku ingat Emak, aku membayangkan ekspresi diwajah wanita tua itu, wajah yang begitu tulus menyayangiku seumur hidupku, tapi harus di hujam oleh kenyataan bahwa anaknya telah diperkosa.
Aku menangis, terus menangis tanpa henti, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa saat tubuh pak Samid yang telah dikuasai nafsu mulai menghujami tubuhku dengan segenap birahinya. Aku menahan rasa sakit yang perlahan mulai menerpa setiap jengkal tubuhku, sakiiiiiit sekali. Aku berdoa memohon kepada ALLAH SWT agar dicabut nyawaku. Mungkin lebih baik aku mati saja, daripada harus terus merasakan penderitaan ini.
“Nur … nur” , suara emak mengagetkanku. “Iya .. ada apa Mak” aku gugup, tanpa sadar air mataku mengalir. “Kamu kenapa Nduk, Mak tanya kok malah melamun ?”, aku segera menghapus air mataku “Enggak mak, Nur tidak akan kerja di tempat pak Samid lagi, Nur mau membantu emak dagang sayur saja di pasar. Bolehkan mak ?” emak hanya tersenyum, dia mengusap kepalaku. “Tapi Nur pengasilan dari dagang sayur itu sedikit sekali tidak cukup untuk membiayai sekolah adik-adikmu”, sepertinya Emak tidak setuju dengan ideku tadi. Tetapi memang benar, penghasilan dari berdagang sayur hanya cukup untuk kami makan saja, sementara untuk keperluan adik-adiku sekolah selama ini, mengandalkan dari penghasilanku bekerja di pabrik. “Aaahhh … emak nggak tau si apa yang sudah aku alami” bisikku dalam hati.
Labels: konyol

Selepas dari rumeh Fatime, muke Ahmad keliatan sedih.
Die kagak nyangke perjalanan cintanye bakalan serumit Romeo en Juliet. Selama perjalanan pulang Ahmad cuman
menggeleng-gelengkan kepale sambil beristighfar
ngebayangin kisah asmaranye ame Fatime bakalan kandas
lantaran masa lalu antara babe mereka berdue. Kadang
sesekali muke Ahmad senyum-senyum kalo ngebayangin
masa-masa indah menjalin cinte ame Fatime.
“Duh Fatime, ape abang sanggup ngelupain lo begitu aje? ,
masa sih kagak ade jalan laen untuk nyatuin kite? Maapin
abang ye, I love u Fatime” Ahmad bergumam kecil, kagak
sadar air matanye menetes pelan di pipinye. Jagoan silat
kite kali ini cume mampu menitikkan air mate atas
ketidakberdayaannye menghadapi babenye Fatime pake cara
nyang bener.
“Astagfirullahaladzim!” gumam Ahmad saat setan ngebisikin
untuk ambil jalan kawin lari. “Kagak, kagak kawin lari
cuman menambah masalah aje, gue gak bakalan mau ngambil
jalan pintas bodoh kayak gitu”
Cukup jauh Ahmad berjalan dan memang ia hanya mau berjalan
menuju rumehnye. Kagak lame kemudian hujan turun dengan
derasnye. Sosok Ahmad pun menghilang dalam lebatnye
hujan.
Nyang terdengar hanya suaranye menyenandungkan lagu dari
band kesayangannye
Ku ingin melukis kanvas jiwamu
Dengan rasa terdalam di hatiku
Menjadikan kau sebagai ombak
Yang takkan pernah jenuh kupandang
Untukmu yang pernah meluruhkan aku
Dalam waktu yang same dari kejauhan keliatan sosok
perempuan yang juga dirundung sedih, sape lagi kalo bukan
Fatime. Die lagi nangis sesegukan di dalam kamarnye. Die
kagak nyangke Babenye berbuat sekejem itu ke orang yang
amat sangat die sayangin. Dalam tangisnye Fatime juga
ngebayangin kalo perpisahan dengan Ahmad bakalan
bener-bener terjadi.
“Abaang jangan tinggalin Ime ye...” lirih suare Fatime
disambut rinai air mate nyang kagak kalah deres ame hujan
di luar kamarnye.
“I Love u abang” bisik Fatime sambil meluk bantal guling
kesayangannye sampe tertidur.
Dalam tidurnye Fatime sayup-sayup mendengar suare
kekasihnye tersayang bernyanyi namun dengan suare nyang
lirih.
Penglihatan di dalam hatiku
Telah tertuju mengapa kepadamu
Apakah harus aku yang terbakar
Menjadi abu tanpa kau tau
Wahai makna yang tak dapat kudalami
Kau yang selalu dalam impian
Yang takkan pernah kulupakan
Aku hanya ingin kau tau
Kupendam rasa hanya untukmu
Mendengar suare Bang Ahmad seketike dalam keadaan tidurnye
itu pule Fatime menitikkan air mate. Fatime teramat takut
kehilangan kekasihnye.
***
Udeh seminggu sejak kedatangan Ahmad ke rumah Fatime,
Enyaknye Fatime ngeliat ade perubahan dari diri anak
semate wayangnye. Nyang biasanye Fatime kalo dimasakin
sayur asem pasti nambah minimal dua piring, sekarang
boro-boro mo nambah, nyentuh tu sayur aje kagak. Sekarang
Fatime paling cuma makan nasi putih dua sendok makan ama
sambel secuil, minum aer putih trus die balik deh ke
kamarnye. Kalo ditanyain kok makannye cuman dikit? die
paling ngejawab dengan lemas “Aye lagi kagak napsu makan
Nyak”. Fatime pun nyang biasanye ceria dan murah senyum
sekarang udeh berubah jadi pendiem dan super duper jutek.
“Duuh anak Enyak, sampe kapan sih lo mo kayak gini
terus?” lirih Enyaknye Fatime sembari melintir-melintir
serbet nyang ade di meja makan.
“Ini kagak bole dibiarin lame-lame, Aye mesti ngambil
sikap, masa lalu adalah masa lalu dan masale Ahmad ame
Fatime kagak ada hubungannye ame perseteruan Babenye.”
Akhirnye Enyaknye Fatime sadar bahwa semue nyang terjadi
bise diperbaikin, setidaknye ade kesempatan untuk
ngembaliin anaknya kembali normal.
Dan ngejogroklah si Enyak di korsi bambu nungguin Babenye
Time. Kayaknya Enyak kagak maen-maen, tekadnye udeh bulet
mo ngebela anak semata wayangnye nyang jadi korban masa
lalu orang tue.
Di dalem kamar Fatime hanya bisa merengut. Yang bisa
menenangkan hatinye saat ini adalah meresapi ayat-ayat
Al-Quran sehabis die sholat sambil nangis dalam doa minta
jalan yang terbaik untuk hubungan cintenye dengan Ahmad.
Selain itu untuk menghibur diri dan mengusir sedih die
selalu ngebace novel kesayangannye berjudul “ Gemini dan
Kepingan Mimpi “ salah satu karye novelis terkenal dalem negeri nyang bername Ayu Prameswary.
“Mungkin klo aye punye kakak atawa sodare kembar kayak di
novel ini gak bakalan aye kesepian kayak gini.”
“Huh biasanye jam-jam segini pasti Bang Ahmad nelepon!
tapi udeh seminggu kok die gak ada kabarnye sih…? Baaang
aye kangen niih!”
Akhirnye untuk yang kesekian kalinye Fatime gak kuase
menahan tangis akibat teramat rindu pade Bang Ahmad. Kalo
udeh denger tangisannye Fatime, hati Enyaknye pasti perih
kayak diiris sembilu. Mane ada sih ibu nyang tega
ngebiarin anaknye sedih terus.
“Time anak Enyak sabar yeh neng, Enyak akan coba ngebujuk
Babe lo agar nerime Ahmad jadi anggota keluarge kite.”
lirih Enyak di teras saat mendengar tangisan Fatime, ia
hanye berani menatap kamar Fatime.
***
“Assalamualaikum!” Teriak Babenye Fatime.
Akhirnye waktu yang ditunggu-tunggu udeh tiba segera Enyak
nyamperin Babe Fatime, cium tangan trus balik ke dapur buat nyediain minum.
“Ni bang kopinye”
“Iye makasih”
Babenye Fatime kelihatannye udeh nyaman duduk di korsi
bambu, rokok kretek udeh diisep dengan nikmatnye. Enyaknye Fatime nunggu waktu yang pas buat ngomong masalah anaknye.
Tatapan matanye udah penuh dengan semangat dan sepertinye
die udah siap dengan konsekuensi yang terjadi nanti.
Setelah lima menit berlalu, satu batang rokok telah habis
terhisap dan kopi di dalam gelas sudah tinggal setengah
menemani Babe melepas lelah mulailah Enyak memulai
percakapan.
“Bang, Aye kesian ngeliat kondisi anak kite akhir-akhir
ini, die jadi berubah gak kayak Fatime yang biasanye.
Mukenye keliatan murung terus, kagak doyan makan lagih,
aye takut die sakit Bang liat aje badannye makin kurus.”
“Ah, ini pasti gare-gare anaknye si Jalum. Heran gue babe
ame anak sama-sama ngeselin! Coba kalo anak kite kagak
bergaul same Ahmad, Fatime pasti gak bakalan kayak gitu”
jawab Babe.
“Lho bang, itu berarti kan menandakan Fatime bener-bener
sayang ame Ahmad!”
“Aahh! Gue kagak percaye, anak kite kan cakep, pinter,
masa bisa kecantol ame anak kampung macem si Ahmad!
anaknye Jalum lagi, bikin panas hati aje, gak mungkin”
“Nah kalo abang ngerasa anak kite pinter kenape gak
ngerestuin orang yang udeh jadi pilihannye? Pastinye
Fatime gak sembarangan pilih dong? Die pasti milih dan
menimbang-nimbang kalo mo serius sama seseorang ye kan?”
“Fatime pasti salah pilih Ti, emang sih Ahmad keliatannye
orangnye bae dan jujur, keliatan dari mukenye. Tapi tetep
aje gue kagak sudi”
“Bang, kok Abang jadi kejem amat sih? Abang pan tau anak
kite si Fatimeh udeh cinte bener ame si Ahmad”
“Lu diem aje deh, bukanye aye kejem, tapi aye kagak sudi
kalo kudu besanan ame si Jalum”
“Masyaallah si Abang, haree gini masih aje nyimpen dendam
ame si Jalum, eh Bang denger ye, ntu cume masa lalu ngapain sih Abang ungkit-ungkit”
“Lu denger ye Ti, ini emang cerite mase lalu kite, tapi
jujur aje aye masih gedek ama tu manusia”
“Istighfar Bang ... Istighfar ..... pan Abang tau, dendam
ame orang ntu kagak bae, dose Bang hukumnye. Lagian ye
Bang si Fatimeh ame Ahmad kagak ada sangkut pautnye ame
masalah masa lalu kite, mereka dah pade saling cinte Bang
dan kite juga dose klo sebagai orang tua kagak ngerestuin
niat baik anak kite”
“Justru itu Ti, gue pingin tu si Ahmad tau kelakuan
Babenye dulu, gimane culasnye si Jalum dan biar Fatimeh
juga tau kalo calon mertuanye dulunye ntu kagak bener,
suka main curang!”
“Abang apa-apain sih?! Kagak lucu Bang!”
“Emang kagak lucu Ti, gue kagak lagi ngelawak”
“Aye ingetin ame Abang sekali lagi, aye kagak demen Abang
kayak gini. Kite dah tue Bang, kagak bae nyimpen rase
benci ame orang lain, lagian pan Akhirnya Aye jadi milik
Abang, akhirnye aye milih Abang karena cume Abang yang aye
cinte”
“Gue tau Ti, tapi gue tetep kagak demen ame tu bocah
keturunan si Jalum”
“Abang keras kepala, Abang egois kagak mikirin perasaan
Fatimeh, Abang tau kagak kalo malem aye suka denger
Fatimeh nangis di kamarnye, aye kagak tega Bang. Cuma
gara-gara rasa benci Abang, Abang tega nyakitin perasaan
anak Abang sendiri. Kite cume punye Fatimeh Bang, aye pingin liat die seneng hidup ame laki-laki demenannye”
“Iye ... tapi kagak mesti ame si anaknya Jalum. Pan masih
ade si Juki, die juga cinte ame si Fatimeh die juga
anaknye haji lagi dan gue rase Fatimeh pasti hidup seneng
ame si Juki”
“Tapi Abang sadar kagak sih ?! Klo fatimeh cume cinte ama
si Ahmad, bukan si Juki yang orangnye suka begantung ame
orang tue”
“Pokoknya gue kagak setuju kalo Fatimah kawin ama si Ahmad
... titik !! kagak boleh di bantah lagi!”
“Ok .. kalo Abang maunye gitu, Abang egois, kagak sayang
ame anak sendiri. Bang .. denger ye ! Mulai ni malem kite
pisah ranjang dan besok aye mo pegi aje ke rumah Emak aye
dan aye bakal ngajak Fatimeh. Silakan Abang mo dendam ame
si Jalum ampe kapan .. ntu terserah Abang !”
“kok lu gitu Ti?!”
“bodo!”
Labels: kolab with Ananda

